Cerpen Ozik Ole-olang (Banjarmasin Post, 22 Juli 2018)

Aku dan Seorang Perempuan Bergantian Menulis Sesuatu ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Aku dan Seorang Perempuan Bergantian Menulis Sesuatu ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group 

Aku melihat perempuan itu menulis sesuatu. Sampai kelas selesai, perempuan itu masih saja menulis di papan. Bapak dosen hanya membiarkannya saja. Kelas bubar dan sampai aku tersadar dari lamunanku, perempuan itu masih ada dan berdiri di depan kelas. Orang-orang seperti tidak menggubrisnya. Sementara aku masih bingung. Dia seolah hantu yang tidak kasat mata. Bahkan sampai sebelum dosen menutup ceramah, perempuan itu tidak diperintahkan untuk duduk.

Ah tunggu dulu. Apa memang benar dia adalah hantu!? Atau aku yang sedang masuk kelas para hantu? Sebab yang kudengar hantu-hantu memang tidak memiliki naluri sosial, bahkan mereka akan dengan santai berseliweran di kamar-kamar para pengantin muda yang sedang berbulan madu, sungguh tidak punya nilai sosial. Ah tunggu, aku masih bingung. Atau Jangan-jangan yang hantu itu aku!?

***

Aku khawatir, bukan tanpa alasan. Sebab beberapa minggu lalu aku mendatangi seorang yang sering dianggap mempunyai kelebihan. Anggap saja kesaktian. Dia memberiku cara dan kiat-kiat hidup abadi. Dan salah satu syaratnya adalah dengan menulis jimat dan rajah. Karena kuanggap ilmu-ilmu mistik macam itu perlu untuk diadakan semacam digitalisasi atau modernisasi, maka kucoba menulis jimat tadi dengan cara diketik. Ya, diketik memakai Mictrosoft Word yang biasa digunakan mahasiswa untuk membuat makalah atau skripsi.

Ternyata aku salah. Ada efek menyakitkan yang kuterima belakangan ini. Barangkali karena efek salah cara menulis jimat itu, atau memang ada hal lain. Entah, aku tidak tahu. Sampai saat aku masuk kelas waktu itu, dan melihat wanita tadi tetap berdiri di depan kelas dan menghadap papan tulis. Aku masih mengkhawatirkan diriku sendiri.

Aku merasa kasihan dengan perempuan tadi. Dia seperti dianggap hantu oleh seisi ruangan pada kelas siang itu, termasukjuga aku. Sampai kelas bubar dan semua orang mulai beranjak pulang, perempuan tadi tetap merenung di depan sana menuliskan sesuatu.

Baca juga: Perempuan yang Menjajakan Bunga – Cerpen Ozik Ole-olang (Radar Surabaya, 08 April 2018)

Tapi aku masih tetap bingung. Bagaimana bisa pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa dia adalah hantu sementara dengan kesadaran yang sesadar-sadarnya aku masih merasa sedang hidup dan belum menjadi orang mati yang bisa masuk ke alam para hantu seenaknya. Atau Jangan-jangan ini adalah efek dari jimat yang kutulis dengan cara diketik tadi!? Ah, tidak mungkin.

Advertisements