Cerpen Khairul Anam (Rakyat Sumbar, 21-22 Juli 2018)

Roh Gentayangan ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Roh Gentayangan ilustrasi Rakyat Sumbar

IBU melarangku jatuh cinta dengan siapapun, ibu juga melarangku untuk tidak mendekati siapapun. Katanya, aku harus menjaga jarak dengan orang-orang. Jika itu dilanggar, maka ibu akan menghukumku dan tidak membolehkanku keluar lagi.

Sebenarnya, aku ingin tahu mengapa ibu melarangku. Namun berulang kali aku bertanya mengapa aku tidak boleh melakukan hal itu, ibu tidak menjawab. Malah kadang memintaku pergi dari hadapannya.

Tentu saja persyaratan ibu tidak menjadi masalah, toh aku juga bisa menjaga diri. Yang terpenting aku bisa keluar bebas tanpa larangan dan hukuman ibu bila nanti sudah sampai di rumah. biasanya, aku pergi ke taman kota. Yaah, sekedar mengamati dan bermain kejar-kejaran dengan kupu-kupu. Menyenangkan sekali.

Taman kota selalu ramai pengunjung bila sore menjelang. Anak-anak, remaja membawa pasangannya ada juga yang sendiri, orang dewasa bahkan sampai sekeluarga pun juga kesini. Aku iri melihat mereka, rasanya ingin sekali mengajak ibu kesini, bermain disini, dan melakukan hal apapun yang menyenangkan. Tetapi keinginanku ku kubur dalam-dalam dalam hatiku, sebab ibu pasti menolak ajakanku. Ibu tidak mau keluar, keluyuran sepertiku. Ia lebih suka diam di rumah.

Dari bawah pohon, kuamati seluruh penjuru taman ini. Bangku taman, air mancur, rerumputan hijau dan bunga-bunga yang beraneka ragam juga orang-orang yang datang ke sini. Namun perhatianku terpusat pada lelaki yang sendirian duduk di bangku dekat bunga-bunga. Dia unik menurutku, karena disaat yang lain datang kesini bersenang-senang dengan kekasih atau keluarganya, ia malah sendirian dengan bukunya.

Baca juga: Pekerjaan Gelap – Cerpen Khairul Anam (Rakyat Sumbar, 30-31 Desember 2017) 

Penasaran dengan keunikannya, membuatku memutuskan berjalan mengarah ke bangku yang diduduki lelaki itu. ia masih sibuk dengan bukunya, tidak mempedulikan sekitarnya, tentu juga tidak menyadari kedatanganku.

Aku duduk agak menjauh sambil terus memandangi lelaki itu. Geraknya memang membosankan, hanya membaca kadang menulis di selembaran kertas. Begitu terus sampai petang menjelang dan aku memutuskan untuk pulang.

Lelaki itu mengkerak di ingatanku. Menghantui di setiap langkahku. Bagai darah yang tanpa henti mengaliri tubuh ini. Mungkin inikah cinta yang dimaksud oleh orang-orang? Aku tidak tahu pasti. Sebab aku tidak pernah jatuh cinta dan mengenal cinta sebelumnya.

Advertisements