Cerpen Donny Alfitri (Rakyat Sumbar, 21-22 Juli 2018)

Hydrometeor ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Hydrometeor ilustrasi Rakyat Sumbar

“SELAMAT pagi,” dua kata pertanda akan adanya sejarah baru di hari ini. Tanda akan adanya waktu yang akan dilalui, tanda yang menggambarkan tiap detik yang dijalani dan tanda bahwa sejarah akan terukir dalam tiap lembaran kertas yang masih kosong.

Namun, belum selesaiku menceritakan sebuah sejarah, tiba-tiba saja hujan deras yang dingin mebanjiri wajahku lalu disertai petir yang menyambar memekakkan telingaku. “putraaaaaaaaaa……. banguuuuuun,” teriak seorang wanita berkaca mata dengan rambut yang semuanya putih berkilau,ya dia oma yang paling terbaik bagiku.

Aku tertegun dengan mata yang masih sedikit tertutup, lalu terbelalakku ketika melihat jam di dinding, kamu nggak jadi jemput Yulia ke bandara? Tanya oma.

Berlariku ke kamar mandi meninggalkan oma dan dalam sekejap mata aku sudah siap menuju bandara. Aku menyiapkan semua keperluan untuk menjemput Yulia, teermasuk makanan kesukaanya yang sudah disiapkan oma dari subuh tadi. Aku langsung pamitan dan menaiki taksi, “Ke mana, Den?” Tanya supir taksi padaku, “Bandara, Pak,” balasku. Taksi melaju menuju bandara, lalu tertegun kumembayangkan bagaimana Yulia sekarang, bermainku dalam imajinasi belaka.

Lalu tiba-tiba saja aku tersenyum sendiri seperti orang gila, atau orang yang sedang jatuh cinta. Namun, dalam hatiku yang paling dalam Yulia adalah orang yang paling spesial bagiku, sangat spesial. Dia adalah orang yang mengetahui semua dari jati diriku, orang yang mengetahui semua sejarah kehidupanku,dan orang kedua yang tahu apa harapan terbesarku, setelah oma tentunya. Yulia adalah sahabat terbaik yang pernah kudapatkan, dan yang kurasakan dia bukan lagi sahabat tapi adik perempuanku yang walaupun hanya berbeda beberapa hari dariku. Kami berdua saling melengkapi, aku melengkapinya sebagai kakak dan dia melengkapiku sebagai adik ya karena kami samasama anak tunggal mana pernah punya kakak atau punya adik.

Akhirnya, taksi berhenti, aku bayar langsung keluar, masuk ke dalam dan duduk di sebuah kursi tunggu. Lalu kukeluarkan kertas yang lumayan besar dan sebuah spidol yang tentunya untuk menuliskan namanya. Aku manuliskan namanya sangat besar dengan semua hurufnya huruf kapital “YULIA MARANTIKA” dan untuk melengkapi kukeluarkan sebuah pelengkap tentunya foto kami berdua yang kutempel di bawah namanya.

Advertisements