Cerpen Purwadmadi (Kedaulatan Rakyat, 15 Juli 2018)

Walat Malioboro ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Walat Malioboro ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

SEMUA tempat keramat, warisan peninggalan, punya walat. Turun temurun, tanpa putus. Setiap generasi mengalami, mewarisi. Walat seperti perangkap. Penjebak para pelanggar. Kelewat garis batas, demarkasi maya yang teramat mitologis. Tak ada tapi dipercaya. Sekurangnya, demikianlah yang terjadi dalam perasaan Wanadi, tukang becak yang lebih 50 tahun menguras keringat di seputaran Malioboro. Ialah ketika Wanadi tiba-tiba tidak bisa kencing berhari-hari.

Selepas Gestok, 1965, Wanadi masuk lingkaran satu Malioboro. Usia 15 tahun sudah mengayuh becak. Mula-mula tidak mencari penumpang karena ia bekerja pada juragan arang. Tugasnya, langsir arang kayu dari Pasar Serangan ke Beringharjo. Sejak itu, ia sudah kena larangan tak tertulis, kencing di tempat terbuka. Termasuk, seruak gang sempit, parit tepi jalanan, atau sebalik rimbun pohonan. Dilarang kencing sembarangan.

Bukan kali ini saja Wanadi kena walat Malioboro. Sebabnya, Wanadi berulang-ulang melakukan pelanggaran. Ia kencing di lokasi terdekat sesaat setelah kebelet. Bahkan, ketika sedang mengayuh becak mengantar penumpang. Begitu kebelet, becak ia hentikan dan enteng saja dia menepi ke trotoar, buang air. Herannya, penumpang tidak protes.

Karena walat yang menimpanya selalu ringan-ringan saja, Wanadi berani melanggar. Malah, kangen rasanya kalau lama tak kena walat. Wanadi masuk angin, ia atasi dengan kerokan. Kaki pegel, ia atasi pijat urut. Batuk pilek, cukup minum kecap dan air jeruk nipis. Perut kembung, minum jamu cekok. Badan panas dingin, kompres rendaman daun dadap srep. Setiap kali Wanadi kencing sembarangan di kawasan Malioboro, tanpa ganti hari ia kena walat. Dan, Wanadi selalu lolos dari beban penderitaan akibat melanggar larangan. “Ah, gampang. Dhemit Malioboro sudah lama kenal aku. Sudah ngepren. Beri walat sekaligus resep penyembuhnya,” sesumbar Wanadi kepada kawan-kawan sesama pembecak.

Walat kali ini tidak sembarangan. Tidak boleh dianggap entheng. Sudah 10 hari Wanadi tidak bisa kencing. Wanadi sudah minum jamu pelancar turas. Minum soda gembira. Minum beer. Semua mentok dan hanya menambah beban kantong kemihnya. Bahkan, hari ini perutnya terasa kembung dan beban berat menekan ke arah dada. Napasnya teras pendek, terengah-engah. Gara-garanya, sebelas hari lalu Wanadi kencing berulang-ulang ke lubang gorong-gorong yang sedang dibongkar akibat renovasi. Pagi, ia kencing di situ, siang juga begitu. Sore dan malamnya pun ia gelotorkan air perutnya ke gorong-gorong terbongkar. Sehari setelah itu, pipa ledeng di alat vitalnya, mampet. Tidak bisa kencing meski kebelet.

Advertisements