Cerpen Renata Mulya (Media Indonesia, 15 Juli 2018)

Surat Cinta untuk Bunda ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Surat Cinta untuk Bunda ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

NAMANYA  Airin, salah satu anak yang besar dan hidup di panti asuhan pelita bunda. Seorang anak yang sejak kecil tidak pernah tahu siapa orang tuanya, di mana mereka dan apa pun mengenai keterangan identitas ayah ataupun ibunya. Sejak dulu ia tidak pernah mengenal arti keluarga, bagaimana indahnya keluarga itu, bagaimana kasih sayang yang bisa ia dapatkan dalam keluarga. Ah, mungkin itu khayalan belaka yang sampai kapan pun tidak bisa ia rasakan. Mungkin itulah sebabnya, ia menjadi pendiam, tak banyak bicara dan sulit bergaul dengan orang lain. Setiap pulang sekolah, ia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke Taman. Hanya untuk sekadar duduk di bawah pohon dan menikmati hembusan angin lembut yang mampu membelai siapa pun.

“Kamu sudah di sini?” Suara serak seorang kakek tua yang senantiasa menemani Airin sepulang sekolah membuat Airin mendongak dan tersenyum. “Kamu sedang menulis apa?” Tanya kakek tua itu selepas mengambil duduk di sebelah Airin. “Aku bukan sedang menulis, tapi sedang menggambar wajah bunda.” Jawabnya. “Memang kamu sudah pernah melihat bunda?” Pertanyaan itu berhasil membuat air mata Airin mengalir melewati ujung matanya, ia menggelengkan kepala. “Tak apa, tak usah menangis kakek yakin suatu hari nanti kamu bisa bertemu dengan bunda.” Ucap kakek tua yang berusaha menenangkan Airin sambil mengelus lembut puncak kepala gadis perempuan itu. Sore berubah menjadi malam, terang berangsur menggelap Airin harus segera beranjak dan pulang ke panti. “Kek aku pamit dulu” Ucapnya sambil mencium punggung tangan kakek tua itu dan bergegas pergi.

Sebelum tidur, ia selalu menulis surat di atas selembar kertas lalu melipatnya dan ia masukkan ke dalam sebuah wadah besar tertutup yang diberi lubang untuk memasukkan setiap kertas itu. Perlahan ia menutup matanya, dan bergabung dengan alam mimpi yang sangat indah. Mempersiapkan hari esok agar menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Raja siang baru saja bangun dan memancarkan cahaya terangnya untuk dunia. Menyelinap melewati setiap celah yang ada di jendela, mengenai mata Airin sehingga membuatnya terbangun dan bersiap menyambut pagi. Airin mengucek matanya lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Setelah itu, ia mengambil kotak sarapan dan memasukkannya ke dalam tas sekolah. “Bu Ann, aku pergi sekolah dulu. Assalamualaikum.” Ucapnya lalu menaiki sepeda yang diberikan salah satu donatur saat ia masih kelas enam sekolah dasar. Namun saat ia hendak mengayuh sepedanya sebuah foto menarik perhatian Airin. Di foto tersebut ada seorang bayi dan seorang perempuan yang terlihat amat senang. Tanpa berlama-lama ia memasukkan foto tersebut ke dalam saku roknya.

Baca juga: Tukang Kasur – Cerpen Adam Gottar Parra (Media Indonesia, 01 Juli 2018)

Advertisements