Cerpen Fandrik Ahmad (Kompas, 15 Juli 2018)

Slerok ilustrasi Galung Wiratmaja - Kompas.jpg
Slerok ilustrasi Galung Wiratmaja/Kompas

Ia berpesan, jangan dikubur di tanah wakaf. Sebagaimana kata wakaf, siapa pun boleh dikubur di sana. Tak perlu merogoh kocek sekadar penebus sekotak lubang kematian. Tidak. Ia ingin berbaring di tanah sendiri.

“Tak ada yang lebih merdeka selain mati di atas tanah sendiri,” tukasnya. Namanya Pak Mat, tinggal di Slerok [1]. Sebuah perkampungan di kaki Gunung Raung. Bagian dari Pegunungan Ijen. Pemisah dua kabupaten di ujung timur tanah Jawa: Jember dan Banyuwangi. Lelaki berkulit besi tua itu seorang petani rajin dan ulet.

Mengembala ternak menjadi selingan pekerjaan. Saya sering mengambil bagian dari pekerjaan ini. Hampir pasti semua petani memiliki ternak. Terutama sapi.

“Aku selalu berdoa semoga anak cucuku dapat menggarap ladang dengan baik. Tetapi takdir berkehendak lain. Harapanku hanya ada pada Wulan. Dan Tuhan sudah mengambilnya,” tukasnya mengenang kepergian anak semata wayang.

Penyuka semur keong besusul dan oseng pakis itu harus mengakhiri hayat di ujung jarum infus. Keranjingan semur keong besusul membuat tubuhnya digerogot kolesterol. Menjelang sekarat, yang bercokol di batok kepala kami hanya sekotak ladang untuk dijual. Biaya pengobatan sangat tinggi untuk ukuran kelas teri. Sekotak ladang paling masuk akal sebagai penebus kesehatan.

“Pantang petani menjual tanah. Tanah adalah warisan. Menjual berarti mengkhianati leluhur. Tanah adalah titipan. Karena tanah ini banyak darah bercipratan. Mati di ujung laras,” tukasnya berkaca masa lalu.

Baca juga: Slerok – Cerpen Fandrik Ahmad (Republika, 29 Juni 2014)

Kami pun tak punya nyali menjual tanah. Ia sudah membuat pilihan sekarat di ujung ajal. Ada kebanggaan bersinar di kelopak matanya. Seolah ia melakukan mati dengan cara yang sangat mulia.

Sejatinya saya hanya pendatang. Seorang relawan. Pak Mat menyilakan saya tinggal bersama keluarganya. Saya berbagi kamar dengan Wulan, salah satu murid saya. Sayang, detak nadinya berhenti di tahun kesembilan dari hitungan napas pertama. Wulan menyerah di ujung penyakit lupus. Seorang murid cerdas dan periang. Pembara semangat luar-dalam.

Saya hampir jatuh. Pertahanan terbang. Harapan menjadi abu. Sampai terbersit di pikiran untuk jauh meninggalkan Slerok. Apa yang perlu dipertahankan bila mimpi-mimpi sudah lari?

Advertisements