Cerpen Budi Afandi (Banjarmasin Post, 15 Juli 2018)

Shabila dan Aroma Asing ilustrasi Banjarmasin Post Group.jpg
Shabila dan Aroma Asing ilustrasi Banjarmasin Post Group

Aku bisa mencium dengan baik aroma asing yang tiba-tiba memenuhi kamarku. Aroma yang tak mungkin berasal dari benda-benda di dalamnya. Aroma yang membuatku merasa berada di tempat yang paling tepat untuk tidak memikirkan apa pun.

Tak ada alasan bagiku untuk tidak menyukai aroma itu, sebagaimana tak ada alasan bagiku untuk tidak menyukai wangi kembang-kembang. Hanya kecemasan saja yang membuatku sempat merasa tak menyukainya. Lalu, sekarang aku kerap membayangkan, andai aroma itu sebuah telaga maka saat itu aku pasti sedang berada di dasarnya, tertidur seperti bayi yang khusyuk menunggu dilahirkan.

Ketika aroma itu muncul, aku merasa jadi lebih mudah tertidur. Sesuatu yang telah lama tidak kudapatkan. Keadaan yang membuatku betah berlama-lama di dalam kamar. Menghabiskan waktu dengan sekadar berbaring sambil melihat kupu-kupu menari di antara percikan air di permukaan telaga.

Aku begitu menikmati aroma itu sampai tiba saatnya aku tak bisa lagi menikmatinya karena diganggu pertanyaan-pertanyaan yang memaksaku memikirkan hal-hal lain selain sekadar menikmatinya.

“Hidungmu sudah jadi botol parfum,” begitu Tabah berkata setelah berhari-hari kami tidak bertemu.

“Di sini hanya ada bau busuk. Baumu. Sial kau. Tiba-tiba menghilang. Lalu sekarang bikin alasan yang tak masuk akal. Bertingkah seperti orang hilang akal.”

Baca juga: Dunia Nyonya Barbara – Cerpen Budi Afandi (Koran Tempo, 10-11 Februari 2018)

Hari itu Tabah menyambangiku dengan cemas kemudian pergi dengan kesal. Sudah berhari-hari aku tidak berkabar, katanya. Masih menurut Tabah, aku telah secara sepihak mengacaukan rencana kami bermalam di rumah orang tuanya di luar kota. Lebih parah lagi, aku tidak menjawab semua pesan dan panggilan teleponnya.

“Dan kau,” ucap Tabah, “Malah tidur-tiduran seperti kerbau yang sedang asik menciumi kotorannya.”

***

Setelah kekesalan Tabah hari itu barulah aku berpikir mengenai keganjilan aroma itu dan hal ganjil lain yang ditimbulkannya.

Advertisements