Cerpen Deden Hardi (Pikiran Rakyat, 15 Juli 2018)

KAMAR Rahasia ilustrasi Dede Wahyudin - Pikiran Rakyat.jpg
KAMAR Rahasia ilustrasi Dede Wahyudin/Pikiran Rakyat

SEBELUM gelap kabut dan pertanyaanmu terlontar serupa mimpiku, kita sedang bertamasya, bukan? Tak jauh-jauh ke pusat kota, beberapa langkah saja kau sudah terpesona dengan wahana yang mulai geriap oleh lampu, gerobak gulali, dan putaran ombak banyu yang menggoda senyummu. Selepas magrib kau merengek menagih janji ibu, mau tak mau nazar kenaikan umur harus ditunaikan. Entah kenapa, kau suka sekali ombak banyu. Mungkin bianglala terlalu menakutkan. Seingatku, kau memang mudah meringis kala ketakutan.

“APAKAH ibu akan pergi, Kak? Aku takut sendirian….”

Pertanyaanmu yang risau beberapa hari lalu menjelma suara dalam ruang kedap udara di putaran ombak banyu ini. Pasar malam yang biasa kita nantikan setahun sekali seolah tak lagi berwarna pada kerlipnya yang menyulih padam atau monokrom. Aku melihatmu tertawa riang. Tawa yang melekat di masa lalu. Aku mengingatnya kala gigi susu itu tanggal menyisakan raut menggelikan bahkan saat kau diam saja. Kau meringis nyeri lalu tergelak sendiri menatap cermin.

“Seperti badut ompong. Hahahaha.”

“Bukan Sovia, kamu seperti dracula. Ya, dracula! Bu lihat, Adik seperti dracula.”

“Apa itu dracula?”

“Makhluk pemangsa. Monster bertaring.”

“Seperti kucing buduk?” wajahnya mulai berubah.

“Itu iblis, Nak. Manusia pembantai umat. Mahkluk tak beragama,” sahut ibu datar mengenyah gelak dari kamar rahasia. Ia menutup rapat pintu lalu mendekat. Raut wajahnya tak bersifat. “Ayo, sudah malam, waktunya tidur. Jangan lupa cuci kaki baca doa.”

Dalam padam, kita masih suka bersahutan. Menerka tentang bunyi-bunyi malam yang juga bersahutan. Lalu kau mengulang gambaran mimpiku.

Baca juga: High Heels – Cerpen Sarah Nurhalizah (Pikiran Rakyat, 08 Juli 2018) 

“Apakah ibu akan pergi, Kak?”

“Mengapa kau berpikir begitu?”

“Aku pernah bermimpi buruk.”

Lalu ia bercerita tentang mimpinya yang sama dengan mimpiku.

“Kita harus berdoa lebih sungguh-sungguh sebelum tertidur.”

Lalu kami berdoa sesuai yang pernah diajarkan Ibu.

Advertisements