Cerpen Jones Gultom (Analisa, 15 Juli 2018)

Sebelum Jarum Jam Berjatuhan  ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Sebelum Jarum Jam Berjatuhan ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

SEBELUM larut malam dan jarum jam berjatuhan, aku ingin menyapamu sekali lagi. Barangkali setelah ini, tinggal kenang yang tergenang. Mungkin juga tak membekas apa-apa. Serupa langit yang baru diguyur hujan.

Yoh, inilah saat-saat yang getir itu. Ketika jalanan lengang dan basah oleh hujan yang turun seharian. Bau asap yang menyesap, aspal yang lembab, riuh knalpot serta wajah-wajah pengemis, masih membekas di ujung matamu. Dia seperti sejarah yang terkelupas. Tak juga luruh dari tembok-tembok ingatanmu.

Inilah detik-detik yang mendebarkan itu. Ketika langit hitam tak juga menjatuhkan hujan di kerongkongan para petani yang haus dengan nasibnya sendiri. Di manakah airmata dia simpan selain pada padi bunting angin?

Rupanya, selalu ada masa ketika kita ingin sekali memutar waktu. Seperti Pinurbo yang mencari celana di rahim ibunya. Atau Dylan yang mengetuk-ngetuk pintu surga. Ah, di manakah ingatan kita tempatkan ketika kita letih melihat wajah sendiri.

Pernahkah terbayang olehmu bahwa kau bukanlah seseorang seperti sekarang ini. Kau adalah seorang yang asing yang memasuki dirimu. Seseorang yang bahkan tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Seseorang yang asing dengan bau tubuhnya sendiri?

Pernahkah, kau merasa dirimu adalah Sinta yang menolak diselamatkan Rama, kekasihmu. Karena justru kaulah yang mengajak Rahawana berselingkuh saat Laksamana menghardikmu?

Pernahkah terpikir olehmu bahwa kau adalah seseorang yang tiba-tiba saja ada di satu tempat yang tak terduga tanpa ikatan dan sebab akibat. Hadir begitu saja. Seketika. Absolut. Pernahkah kau merasa sebagai Musa yang membelah Laut Merah?

Baca juga: Kisah Siti di Hari Natal – Cerpen Jones Gultom (Analisa, 31 Desember 2017)

Pernahkah kau terpikir bahwa di bagian dunia yang lain, ada seseorang yang merasa dirinya adalah dirimu, lantas mengikatkan dirinya di bujuran rel kereta, sembari mengucap doa bapa kami?

Pernahkah kau mengira dirimu Raffles, saat mematung di ujung jalan menunggu bus kota datang. Pernahkah kau merasa seperti sedang mengamati pekerjaan Tuhan. Pernahkah kau merasa tiba-tiba malaikat datang dan menitipkan sayapnya ketika kau tengah bercinta di kamar mandi? Pernahkah kau merasa tiba-tiba yakin, orang yang kau gumuli adalah ibumu sendiri?

Advertisements