Cerpen Tjak S. Parlan (Padang Ekspres, 15 Juli 2018)

Rumah Kecil dengan Pintu Pagar Terbuka ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Rumah Kecil dengan Pintu Pagar Terbuka ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

PEREMPUAN itu muncul dari jalan setapak di sisi bukit. Sesekali matanya memejam, menghirup sehimpun bunga di tangannya. Seorang gadis kecil berlari-lari kecil, menyongsongnya. Gadis kecil itu muncul dari pintu pagar sebuah rumah. Rumah itu kecil— dengan halaman yang cukup luas dan dikelilingi oleh pagar batu setinggi perut orang dewasa.

Gadis kecil itu segera menggandeng tangan perempuan itu. Seraya berjalan beriringan, si gadis kecil menceritakan sesuatu kepada perempuan itu. Perempuan itu manggut-manggut, lalu tertawa kecil hingga mereka tiba di depan rumah itu. Beberapa langkah melewati pintu pagar, gadis kecil itu berbalik dan berusaha menutupnya. Perempuan itu menoleh dan memberikan sebuah isyarat.

“Biarkan saja terbuka!”

“Ibu selalu melarangku menutupnya,” jawab gadis kecil itu.

“Sayang, tanganmu masih terlalu kecil untuk pintu pagar ini,” tegas perempuan itu.

Gadis kecil itu mengangkat bahunya dan bertingkah seperti seorang dewasa yang tengah berusaha menyetujui sesuatu.

Pintu pagar besi itu terlihat kokoh meski korosi menyerang di sana-sini. Setelah bertahun-tahun, seseorang membutuhkan tenaga ekstra untuk sekadar mendorongnya agar bisa membuka atau menutup. Pada suatu hari, sekelompok orang telah membuka pintu pagar itu dengan paksa. Penghuni rumah itu digelandang keluar, diarak menyusuri bulak dan ladang-ladang milik penduduk, dijauhkan dari tempat itu selamanya. Sejak saat itu, pintu pagar itu selalu terbuka. Perempuan itu bahkan bersumpah tidak akan pernah menutup pintu pagar rumah itu lagi.

Baca juga: Arloji – Cerpen Tjak S. Parlan (Padang Ekspres, 26 November 2017) 

“Setelah semua yang terjadi, seseorang tak perlu menutup pintu pagar rumah lagi,” kata perempuan itu, lebih sebagai gumam.

“Ibu akan melindungiku?”

“Seperti yang sering ibu bilang,” kata perempuan itu, “tak akan ada orang jahat yang akan datang kemari. Lagi pula, apalagi yang akan mereka ambil dari kita?”

Gadis kecil itu tersenyum, lalu berlari-lari kecil membuka pintu rumah. Saat perempuan itu mencuci kaki dan tangannya dengan air padasan di depan rumah, gadis kecil itu muncul seraya memamerkan sebuah toples yang berisi air penuh.

Advertisements