Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 15 Juli 2018)

Resital Malka ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka
Resital Malka ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Suara piano bertenting di tengah keheningan. Dari atas panggung. Di langit. Hanya satu denting. Ting! Dan di bawah sana, hamparan tanah rekah. Ribuan dinding bengkah. Dan jutaan pohon rebah. Terkulai di tanah.

Di bawah sana, langit telah menjadi hitam. Kilat sambar-menyamResital Malka ilustrasi Hery Purnomo – Suara Merdekabar. Orang-orang menengadah. Bertanya-tanya, siapa bermain piano di atas sana? Menekan sebuah tuts dalam keheningan teramat purba.

“Ya, Tuhan, itu pasti Malka!” seru seseorang.

“Aduh, bagaimana ini, kita belum bersiap-siap!” sahut yang lain.

“Kita sudah terlambat! Resital Malka sudah dimulai!”

***

Tak ada yang lain. Ya. Itu pasti Malka. Ia pianis paling terberkati di jagat raya. Dan ia sudah menunggu terlalu lama untuk memulai resital paling mencengangkan, paling mengguncangkan.

Seseorang mengatakan, perang telah berakhir hampir satu abad silam, tapi itu bohong. Perang masih berlanjut, dan kehancuran masih terus berlangsung. Lebih hening, lebih lembut. Dan tak kasatmata. Dan di atas sana, di sebuah panggung resital megah, sebuah piano usang membatu. Berdebu. Butuh disentuh.

Disentuh Malka.

Malka selalu datang tepat waktu. Dan ia bisa saja memulai konser kapan pun ia mau. Namun sungguh tidak adil jika ia harus bermain di atas panggung seorang diri, sementara kursi-kursi penonton kosong melompong tanpa kehidupan. Setidaknya seseorang harus datang dan duduk di kursi itu untuk mengapresiasi dentingan mahal jemari Malka.

Baca juga: Sekoci dan Sepasang Lumba-lumba – Cerpen Mashdar Zainal (Kompas, 22 Januari 2017)

Malka akan memberi mereka waktu. Dan Malka akan menunggu. Baginya menunggu bukan masalah. Namun tentu ia harus bergerak ketika waktu menunggu telah habis.

Advertisements