Cerpen Ardi Wina Saputra (Jawa Pos, 15 Juli 2018)

Prahara di Geladak Weltevreden ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Prahara di Geladak Weltevreden ilustrasi Budiono/Jawa Pos

“VERDOMME! [1] Apakah pantas seorang jebolan Universteit Leiden [2] mendustakan cinta seorang kekasihnya!”

Ucapan itu terdengar keras di atas geladak kapal Weltevreden. Seorang wanita kurus, tak terlampau tinggi, berkulit putih mulus dan berambut sebahu sedang membusungkan dada di hadapan pria gembul berambut ikal. Tanpa rasa takut! Matanya setajam busur panah. Tangan kanan wanita berhidung mancung itu bahkan sudah siap melesatkan telapak tangan kanannya pada pipi pria di hadapannya itu. Di samping mereka, ada seorang nonik bertubuh tinggi semampai tak henti-hentinya mengusap air mata. Aku kembali menoleh ke arah dua orang aneh yang sedang bertengkar tadi, dan benar saja, wanita itu baru saja mendaratkan tamparan ke pipi kiri lelaki gembul di hadapannya.

“John, ada masalah!” ucap Koenraad sembari membunyikan peluit panjang mengajakku berjalan ke arah mereka.

Aku sebenarnya malas mengurusi masalah ini, tapi sebagai seorang polisi militer yang saat itu ditempatkan di atas geladak, aku harus menjaga kondisi agar tetap stabil.

“Hey! Stoppen! Kalian bertiga!” tegas temanku Dirk ketika melihat lelaki gembul yang ditampar tadi mendorong wanita berkulit bersih itu hingga tersungkur jatuh.

Si Gembul maju ke arah lawannya dan berdiri mengangkangi bahkan siap untuk melesatkan bogem mentah. Dibandingkan dengan Dirk, posisiku memang lebih dekat dengan kejadian itu.

“Hup! Wachten! [3] Bukan begitu cara menghadapi wanita!” ujarku, lalu kutendang perut gembulnya dan ia terlempar agak jauh dari wanita itu.

“John! Biar kuurusi lelaki ini, akan kusantap dia di kabin penghakiman! Kau urus saja dua wanita itu! Ajak mereka kembali ke kabin masing masing!” ucap Dirk yang berlari ke arahku. Huh! Dasar! Dia mau bersenang-senang dulu rupanya. Tangan dan kakinya sudah lama tak diasah sejak pulang ke Rotterdam tiga tahun lalu untuk menyembuhkan luka tembak tentara Jepang di pangkal pahanya.

***

Baca juga: Bekas Bek – Cerpen Mahfud Ikhwan (Jawa Pos, 08 Juli 2018)

Advertisements