Cerpen Muna Masyari (Tribun Jabar, 15 Juli 2018)

Kuburan Keenam ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Kuburan Keenam ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

BARANGKALI, dengan hidup sebagai pembunuh, hidupmu menjadi damai. Dadamu terasa lebih ringan. Lebih lengang. Tidak lagi diriuhi caci maki. Tak lagi disesaki bertumpuk-tumpuk benci yang bisa menggerogoti daging tubuhmu. Cukup dengan membunuh orang-orang itu lalu menguburnya, maka perang seolah usai. Barangkali memang seharusnya begitu daripada terus menambah lubang-lubang di dada. Lubang yang tak henti menimbulkan nyeri. Lubang dendam dan benci.

***

TIAP kali berkunjung, aku senantiasa mengagumi halaman rumahmu yang bersih dan berpagar pohon kembang melati tumpang dan aku selalu memetiknya sekuntum-dua kuntum. Lalu menciuminya berkali-kali.

“Selain bisa dijadikan obat sakit mata, demam, sesak, aroma melati bisa mengurangi pikiran-pikiran buruk, cemas, tegang, dan….” Penjelasanmu sangat panjang pertama kali aku berkunjung dan minta izin memetik sekuntum melatimu lalu menghirup aromanya dalam-dalam.

Aku mengangguk-angguk. Barangkali karena aroma melati meruap di rumahmu sepanjang waktu hingga kau selalu ceria dan penuh semangat.

“… di Madura, kembang melati sebagai lambang perempuan,” kau tersenyum. Matamu yang lebar semakin dilebarkan; menatapku seolah ingin menegaskan bahwa kau adalah melati itu sendiri.

Senyum yang tak pernah lepas dari bibirmu dan semakin meyakinkanku bahwa hidupmu seasri dan senyaman rumahmu. Entah sudah berapa kali aku berkunjung ke tempatmu. Sekian kali itu pula aku memetik kembang melatimu lalu menciuminya berkali-kali.

Kita kenal pertama kali di pasar. Aku sebagai penagih arisan keliling ke pemilik-pemilik kios, sedangkan kau penjual jamu yang biasa berjualan di pasar setelah berkeliling kompleks. Karena kerap membeli jamumu yang beraroma rempah dan hangat-hangat nikmat, hubungan kita pun jadi karib, dan kau memberikan alamat rumah kontrakanmu untuk kukunjungi. Aku pun sering bermain ke rumahmu untuk sekadar menumpahkan kegundahan hati seraya menghirup aroma melati sebagai terapi.

Advertisements