Cerpen Maywin Dwi-Asmara (Koran Tempo, 14-15 Juli 2018)

La Vita e Viaggio ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
La Vita e Viaggio ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Pernahkah kau mendengar frasa yang mengatakan bahwa hidup hanyalah perjalanan? Aku menyukai gagasan ini, terutama setelah membaca kumpulan puisi yang ditulis oleh seorang penyair yang sangat kusukai, ia satu-satunya penyair yang mampu membuatku ingin menangis hanya karena tak mampu mengerti satu baris kunci dari berbaris-baris kata yang ditulisnya. Dalam kumpulan puisi yang ia beri judul berdasarkan salah satu puisi yang ada di dalam kumpulan itu, ia menggambarkan dirinya sebagai obyek yang terus berjalan; lahir dan terjebak dalam perjalanan tanpa rencana. Tentu saja ia tak dapat menghindari pertemuan dan persinggungan dengan apa-apa yang ia temukan dalam perjalanan itu. Karena ia seorang penyair—di buku tersebut—beberapa puisinya menjadi seperti oleh-oleh, tapi beberapa yang lainnya menjadi sesuatu yang lebih berarti sebagai tato atau bekas luka permanen akibat persinggungan dan pertemuan yang tak pernah ia rencanakan. Karena aku begitu terpesona pada apa yang ia tulis, tiap kali selesai membaca satu puisi, aku akan melamunkan kejadian-kejadian yang kira-kira dialami oleh sang penyair hingga menghasilkan puisi yang baru selesai kubaca; apa yang ia pikirkan saat itu dan bagaimana akhirnya ia menemukan kata-kata yang bisa mewakili hal-hal yang bahkan lebih banyak dari kata yang bisa terbaca dalam satu judul puisinya.

Hal yang kemudian biasa terjadi kepadaku ketika menggandrungi sesuatu dengan berlebihan—seperti gagasan puisi sebagai tanda bahwa hidup kita tak lebih hanyalah sebuah perjalanan seperti yang dikatakan penyair itu—adalah aku akan menilai diriku menurut dasar-dasar terbatas yang aku peroleh dari hasil pemikiranku sendiri; apakah aku sudah cukup mampu untuk berjalan? Apakah sesuatu telah menemukanku saat aku sedang dalam perjalanan tanpa rencana ini atau akulah yang menemukan sesuatu itu? Apakah aku telah bersinggungan dengan sesuatu yang sebenarnya luput dari indra-indraku? Apakah aku telah memiliki perjalanan yang bisa kutuliskan dalam puisi?

Pertanyaan terakhir ini sungguh menyakitkan karena pada akhirnya aku akan terjebak pada pertanyaan praktis: apakah aku mampu menulis puisi? Sebuah puisi perjalanan? Aku rasa tidak, aku yakin bahwa aku lahir di jalan yang berbeda dengan sang penyair.

Advertisements