Cerpen Sungging Raga (Kompas, 08 Juli 2018)

Si Pengarang Muda ilustrasi Ifat Futuh - Kompas.jpg
Si Pengarang Muda ilustrasi Ifat Futuh/Kompas

Alkisah, di sebuah negara yang menolak berkembang, hiduplah seorang pengarang muda yang nyaris putus asa disebabkan selama bertahun-tahun tidak satu pun cerita pendeknya dimuat di surat kabar. Padahal, ia sudah mengerahkan segala upaya, baik itu dengan ikut kelompok-kelompok kepenulisan, lokakarya, hingga menyapa dan berusaha akrab dengan redaktur, tetapi semuanya gagal. Sampai akhirnya ia pun pergi meminta bantuan dukun.

“Bisakah Anda memasukkan roh penulis hebat dari masa lalu ke dalam tubuh saya?”

Sang dukun menatapnya dengan heran, biasanya dia mendapat klien yang ingin dagangannya laris, ingin menang pemilu, ingin naik jabatan, atau ingin merebut istri orang. Baru kali ini ada yang memintanya memasukkan roh penulis. Tetapi, tentu sebagai dukun profesional segala permintaan tidak boleh ditolak.

“Bisa saja, Anda mau roh siapa?”

“Knut Hamsun. Peraih Nobel asal Norwegia.”

“Hm, kalau begitu tunggu sebentar,” dukun tersebut lantas menghubungi dunia gaib dan minta pada operatornya agar disambungkan dengan Knut Hamsun.

Tak disangka, Knut Hamsun bergembira sekali ketika ada yang menawarkannya untuk kembali menulis meski lewat tubuh orang lain. Maka, transaksi itu segera terselesaikan. Si pengarang muda pulang dalam keadaan bersemangat. Ia mulai mengurung diri di kamar dan mengetik berhalaman-halaman di layar komputernya.

Baca juga: Sepertiga Malam Terakhir – Cerpen Sungging Raga (Media Indonesia, 21 September 2014)

Tak butuh waktu lama, ketika karya terbarunya ia kirim ke surat kabar terbesar di negeri itu, sang redaktur nyaris pingsan karena begitu bagusnya karya tersebut.

“Hamsun yang baru!” sang redaktur berteriak. Karya itu pun segera dimuat dalam waktu singkat.

Karya-karya si pengarang muda mulai bermunculan di berbagai surat kabar, ia mulai mendapat perhatian pembaca dan kritikus. Hal itu tentu membuatnya bahagia. Jika dahulu ia selalu kecewa, sekarang setiap akhir pekan ia melihat namanya tercetak di surat kabar atau majalah. Tetapi, roh Hamsun lama-kelamaan membuat tubuhnya menderita, sebab roh tersebut menuntutnya menulis berjam-jam, berhari-hari, sampai lupa makan dan lupa mandi. Sebagaimana riwayat Knut Hamsun semasa hidup dahulu. Rupanya dengan menjadi Hamsun, ia jadi tidak peduli kebersihan dan kesehatan tubuhnya.

Advertisements