Cerpen Aravayana (Media Indonesia, 08 Juli 2018)

Seri Banun ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Seri Banun ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

Dari setiap penjuru angin laut kembali menampar. Menggigil dan gemeletuk giginya mengiringi suara ningnong klenongan dari kuningan yang sudah tua usia. Ia masih mengusir sisa-sisa pasir yang lekat di telapak kakinya saat orang-orang mulai balik. Mata Seri Banun menampak mereka menjinjing ember penuh nyale*. Meski hari belum terlalu terang, ia tahu beberapa laki-laki yang sama-sama berbagi malam dengannya mengerling ke arah mukanya yang tak lagi ditempeli riasan. Kantuknya yang mulai meradang bertimpa-timpa dengan penat yang mulai terasa menyiksa. Tapi laki-laki itu belum juga nampak.

Anak kecil itu terdengar merengek. Terasa sedikit hangat waktu ia mencoba menyentuh sikutnya sendiri sebelum mendekatkan tangan kanannya ke badan si kecil. Kelewat hangat. Pasti ada yang tak beres. Mungkin setan-setan yang mendiami pantai sempat mengelus-elus helai rambutnya dan mengalirkan hawa jahat menyusupi badannya. Mungkin juga mereka menitipnya lewat rintik hujan yang menimpali tarian jangger-nya malam tadi yang sudah ia putuskan sebagai kali terakhir. Itu kesepakatannya dengan sang suami.

Seri mulai jengkel. Hari berangsur terang tapi lelaki itu belum juga muncul. Si buah hati kian gelisah dalam gendongannya, orang-orang sudah mulai beranjak pulang, tapi yang dinanti belum juga datang. Dieratkannya dekapannya sambil mengguncang-guncang kakinya yang kembali gatal.

Laki-laki yang dinantikan tak juga tiba. Seri Banun menunggunya muncul keluar dari belokan jalan setapak yang membelah garis pantai di sana. Seperti dulu.

***

Sangat diharapkannya ia muncul. Lelaki itu menjanjikannya satu ember nyale tangkapannya. Dan ia memang muncul dengan langkah gagahnya yang menjejak kerumunan pasir, menyorongkan ember penuh itu untuk dilihat.

“Untuk penari pujaanku seorang. Kalau bisa berikan kesempatan aku merasai masakanmu nanti malam. Aku berdoa-doa ada sedikit berkah untukku,” katanya berbunga-bunga manis berguna-guna.

Seri menunduk, kemudian mengangkat mukanya yang memerah, memperlihatkan senyum kecilnya ketika mengintip pelan dari balik pundaknya dan bergegas menjauhi pantai.

Advertisements