Cerpen Asmadji As Muchtar (Kedaulatan Rakyat, 08 Juli 2018)

Sehabis Pilkada ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat
Sehabis Pilkada ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

SEHABIS pilkada, Wanjidul tampak gembira, padahal dirinya kalah sebagai calon independen. Di balik kegembiraannya, Wanjidul membayangkan praktik politik yang telah dipilihnya.

Mula-mula Wanjidul ingin mencoba menjaring cukong dengan menjadi calon kepala daerah. Keinginannya itu makin kuat setelah melihat banyak proyek di daerahnya beraroma korup, sedangkan yang menikmatinya adalah kepala daerah bersama pejabat lain dan cukong. Selain itu, ada isu lain: semua calon kepala daerah pasti akan didukung cukong agar siapa pun yang menang pilkada merasa berhutang budi kepada cukong.

Karena tak ada partai yang mendukungnya, Wanjidul pun maju sebagai calon independen. Baginya, dengan punya banyak teman yang tersebar di banyak pelosok desa, menjadi calon independen lebih mudah dibanding menjadi calon yang diusung partai. Sebab, syarat menjadi calon independen cukup dengan dukungan sejumlah rakyat yang dibuktikan dengan copy KTP, sedangkan dukungan partai harus diperoleh dengan menyetor mahar politik yang besar.

Wanjidul yakin, banyak temannya akan bersedia membantunya mengumpulkan 65 ribu lembar copy KTP sebagai syarat maju sebagai calon independen. Tiap lembar copy KTP akan dihargai 10 ribu rupiah, sedangkan pengumpulnya diberi honor satu juta rupiah untuk tiap desa. Itu artinya hanya butuh modal sekitar 1 miliar rupiah saja sudah cukup membuatnya maju sebagai calon independen. Dan, begitu dirinya sudah mendaftarkan diri sebagai calon independen, ternyata memang bermunculan cukong yang ingin mendukungnya dengan dana segar.

Mula-mula yang datang pertama kali di rumah Wanjidul adalah Bos Heru dan rekan-rekannya yang sudah lama dikenal sebagai kontraktor besar lintas provinsi. Bos Heru datang bermobil mewah seharga 2 miliar rupiah. Tanpa basa-basi Bos Heru langsung memberikan dana kepada Wanjidul untuk dibagikan kepada rakyat menjelang hari pemungutan suara, dengan perjanjian kalau Wanjidul menang maka proyek daerah harus digarap Bos Heru. Jumlahnya 20 miliar rupiah.

Setelah Bos Heru keluar dari rumah Wanjidul, muncul Bos Edi yang dikenal sebagai cukong balok kayu. Konon Bos Edi bisa memindahkan kayu dari hutan-hutan di Kalimantan ke Jawa karena dibeking orang-orang kuat. Bos Edi menawarkan dana puluhan miliar kepada Wanjidul dengan perjanjian kalau Wanjidul menang pilkada maka semua kantor daerah akan direnovasi dengan memakai kayu darinya.

Advertisements