Cerpen Agustinan (Analisa, 08 Juli 2018)

Sahabat Masa Lalu ilustrasi Toni Burhan - Analisa.jpg
Sahabat Masa Lalu ilustrasi Toni Burhan/Analisa

SAAT sedang berselancar di dunia maya, aku tak sengaja menemukan gadis ini. Gadis ini ibarat setangkai mawar yang terlupakan. Ia sosok cantik namun rapuh, yang mencoba tegar menghadapi kerasnya kehidupan dunia ini. Shinta namanya. Memandang kedua matanya membuatku jatuh ke dalam kenangan duabelas tahun lalu.

Kala itu kita masih berseragam putih abu. Kita banyak menghabiskan waktu bersama. Kamu sering membantuku menuliskan catatan pelajaran. Membantu memberiku jawaban ketika aku tak tahu. Kamu ibarat malaikat. Sering mentraktirku. Kamu sungguh sangat baik terhadapku. Kita sering bercanda dan tertawa bersama. Namun di saat itu di antara kita tak ada sama sekali perasaan cinta. Kita hanya berteman. Aku sangat menyayangimu sebagai sahabat.

Hari itu tak terasa kita sudah melewati ujian kelulusan. Aku sering sekali mendengar curhatan gembiramu karena berhasil mengisi banyak jawaban dengan tepat. Kamu gadis yang pintar namun kepintarannya tersembunyi. Sebelum pengumuman kelulusan tiba, aku terpaksa harus pergi jauh berpisah dengan teman-temanku. Aku sangat sedih. Aku mendapat tawaran kerja di luar kota.

Hari pengambilan kelulusan pun tiba, aku jauh-jauh dari luar kota menemani ibu untuk mengambil surat kelulusan. Aku bahagia sekali ketika membuka kertas putih yang dilipat itu. Selang beberapa hari kemudian kami datang untuk cap jari. Aku berjumpa teman-teman. Dari sana aku tahu ada beberapa orang yang tak lulus. Salah satunya adalah Shinta, gadis baik hati yang malang. Aku tak banyak berpikir tentangnya kala itu. Karena aku banyak pikiran dengan kondisi pekerjaanku yang cukup membuatku stres. Mengenang masa itu aku merasa sangat kejam karena tak mampir menghiburnya.

Aku meninggalkan sebuah pesan untuk teman lamaku ini. Wajahnya telah banyak berubah. Aku merasa ada yang ganjil dengan wajahnya. Dia tampak lebih tua daripada usianya dan terlihat stres. Sudah duabelas tahun aku tak bersua dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang? Sudahkah ia menikah?

Beberapa hari kemudian aku baru sempat mengecek inbox pesan masuk. Shinta meninggalkan pesan untukku. Kebetulan juga dia sedang online. Kami bercakap-cakap. Banyak sekali hal yang kami bicarakan saat itu. Namun akhirnya kami putuskan untuk menjalin kasih dan berpacaran. Memang aku sedang mencari pacar. Aku lelah mengejar wanita tanpa kepastian. Aku yakin untuk menerimanya apa adanya. Memang wajahnya terlihat sangat tua untuk usianya dan kusut. Dia juga ternyata sama sepertiku ingin mencari jodoh. Aku siap menerimanya apa adanya.

Advertisements