Cerpen Zainul Muttaqin (Solo Pos, 08 Juli 2018)

Perempuan Pesisir ilustrasi Solo Pos
Perempuan Pesisir ilustrasi Solo Pos

Perempuan itu membawa sekeranjang ikan di atas kepalanya, berjalan menyusuri jalanan Desa Tang-Batang. Telanjang kaki perempuan itu membawa langkahnya pada setiap rumah penduduk. Bila tiba pada satu rumah, berdiri perempuan itu sambil berteriak, “Ikan segar…ikan segar….” Lantang perempuan itu bersuara dengan harapan si tuan rumah keluar dan membeli ikan-ikan yang dijajakannya. Sesekali ia usap keringat di keningnya dengan ujung dasternya.

Maimunah nama perempuan itu. Ia harus berjualan ikan sejak matahari merangkak di langit demi menghidupi dua anaknya. Suaminya angkat kaki setelah ribut besar di pengujung Desember yang dingin tiga tahun lalu. Laki-laki itu meninggalkan rumah dengan rupa emosi. Maimunah tak kuasa menahan kepergian suaminya.

Maimunah masih ingat saat Darkum, suaminya itu menampar pipinya tiga tahun lalu. Laki-laki itu juga hampir saja membenturkan kepala Maimunah ke tembok. Wajah Darkum mengeluarkan api. Napasnya naik turun. Mulut Darkum dipenuhi sumpah serapah. Terus mengalir dari mulutnya caci maki.

Kemarahan Darkum bukan tak berasalan. Ia menuduh istrinya telah mengkianati cintanya dengan cara membagi cinta itu kepada laki-laki lain, tanpa pernah diberi kesempatan menjelaskan kejadian yang sesungguhnya, Darkum terus mengutuk perbuatan istrinya. Gemuruh di batinnya tak lagi dapat ditenangkan.

“Aku enggak butuh penjelasan dari perempuan laknat sepertimu!” Darkum membentak.

Terlanjur sembab wajah Maimunah oleh air mata. Berulang-ulang ia mengatakan kepada suaminya bahwa tidak pernah sekali pun ia menjalin hubungan dengan Maksan, satu-satunya juragan tembakau di Tang-Batang. Kecemburuan yang meledak di dada Darkum tak lagi membuatnya percaya pada perkataan istrinya sendiri.

Bagi Darkum, istrinya sedang berusaha menutupi perselingkuhannya itu. Ketidakpercayaan Darkum terhadap istrinya lantaran sering ia mendengar pengakuan Maimunah jika Maksan sering menitipkan uang pada anaknya. Itulah mengapa Darkum sangat yakin bahwa Maksan menaruh hati pada istrinya. Tidak hanya itu, sebab lain yang menggenapkan dugaan perselingkuhan itu lama terjalin ialah Maimunah sangat girang setiap kali Maksan memberinya uang.

Advertisements