Cerpen Mashdar Zainal (Lampung Post, 08 Juli 2018)

Penjual Lelucon ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Penjual Lelucon ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

SEMAKIN hari orang sedih di dunia ini semakin banyak. Hiburan-hiburan yang ada di tivi dan media sosial tak pernah cukup. Sebab hiburan-hiburan di tivi dan media sosial kadang justru lebih menyedihkan. Sedangkan teman dan keluarga kurang bisa diandalkan, sebab kesedihan kerap kali cepat menular pada orang-orang terdekat.

Pada kondisi demikian, keluarga dan sesama teman tak bisa saling mendukung, alih-alih menghibur. Sebab mereka sama-sama dirundung kesedihan. Karena alasan wabah kesedihan itulah, komedian kita memilih untuk membuka lapak baru dengan dagangan baru: lelucon-lelucon.

Konon, lelucon adalah obat mujarab untuk menghilangkan kesedihan, meski Cuma sejenak. Berjualan lelucon tak butuh banyak modal. Cukup mengandalkan bualan, perbendaharaan kata lucu, juga bahan-bahan berupa kisah-kisah yang memungkinkan untuk diplesetkan. Dan Komedian Kita cukup ahli dalam hal-hal tersebut.

Jadi, ketika kebanyakan orang berjualan yang macam-macam. Komedian kita memilih untuk berjualan lelucon. Harganya murah. Beli satu lelucon dapat bonus satu lelucon. Lelucon itu bisa beraneka bentuk dan rupanya, tema dan pesannya. Mulai dari lelucon politik, fisik, sampai lelucon berbau RA-SA. Tapi, untuk yang terakhir itu komedian kita harus ekstra hati-hati. Sebab, RA-SA adalah wilayah sensitif yang sejatinya kurang lucu untuk dijadikan bahan lelucon. Tapi begitulah, tidak sedikit dari para pelanggan komedian kita yang suka dengan lelucon satu itu.

“Lelucon, lelucon, murah, murah… Kalau tidak lucu uang kembali, kalau sukses terhibur boleh kembali lagi…” pekik komedian kita di tengah keriuhan lapak.

Orang-orang mengerumuninya. Mulai dari anak-anak sampai orang-orang renta. Para gadis yang patah hati suka membeli lelucon yang berisi tentang ketololan lelaki. Para istri yang jengkel pada suami pun suka membeli lelucon jenis itu. Orang-orang tua yang lelah dengan kelakuan anaknya sangat suka dengan lelucon anak jaman now.

Sedangkan para pejabat, biasanya suka titip beli lelucon politik. Tapi, kalau kebetulan lelucon politik yang dibeli itu menyerempet kisahnya, tak segan-segan ia melabrak komedian kita, menyuruhnya hati-hati kalau meramu lelucon. Mendapat dampratan semacam itu, komedian kita tak pernah gentar, ia hanya membalas dengan santai sambil cengengesan, “Itu cuma lelucon, Bapak. Jadi, kalau ada yang tersinggung, jangan-jangan itu beneran. Hahaha…”

***

Advertisements