Cerpen Ida Fitri (Tribun Jabar, 08 Juli 2018)

Ingin Seperti Gabo ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Ingin Seperti Gabo ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

JIKA Gabriel Garcia Marquez, yang selanjutnya saya sebut Gabo, bersahabat dekat dengan orang terpenting dari sebuah kerajaan yang bernama Fidel Castro, seorang raja dari Cuba, saya mulai tertawa terbahak-bahak, mengejutkan seekor kucica ekor kuning. Burung itu terbang di antara tumpukan rumpun kalanjana: tidak ada seorang kepala daerah pun yang saya kenal, apalagi seorang kepala negara. Saya pejamkan mata, di depan sana air Sungai Peusangan mengalir tenang di bulan April, daun waru melambai-lambai dari pohon yang ditanam untuk mencegah air mengikis daratan, mengingatkan pada masa saya kecil dulu ketika kami mengambil tangkai-tangkai daun tersebut untuk mengeriting rambut. Mungkin sia-sia mencari sosok pendongeng berbahasa Spanyol itu dalam diri saya. Rumput kalanjana ditanam memanjang di bibir sungai, tingginya sudah mencapai sepinggang, menunggu waktu yang tepat untuk dipotong dalam rangka menggemukkan sapi-sapi yang hendak dijual. Saya duduk di tanggul yang lebih tinggi, menemukan sebuah nama yang pernah ditulis oleh Gabo, Simon Bolivar; Sang Pembebas Amerika Latin.

Pagi itu, tanpa alasan yang jelas saya duduk di tanggul sungai yang terletak di belakang rumah saya, merenungi hai-hal yang terjadi dalam hidup saya sesuai dengan anjuran seorang penyair dari pulau seberang. Membanding-bandingkan pendongeng besar dari Amerika Latin itu dengan saya adalah kenaifan lain yang sedang saya lakukan, “Cut Nyak Dhien.”

Tidak sengaja saya mengguman sebuah nama, pahlawan perempuan dari tempat saya dilahirkan yang wajahnya sudah saya kenal sejak saya belajar sejarah di madrasah dulu, tapi saat ini saya mulai meragukan ketangguhannya, “Mungkinkah seoarang perempuan bisa sedemikian berpengaruhnya di daerah yang masyarakatnya sangat patrilineal? Yang saya sendiri pernah merasakan betapa sulitnya keluar dari budaya itu, bahkan dalam kebiasaan makan saja, betapa ibu saya dulu selalu menyiapkan kepala ikan untuk disantap ayah, kemudian untuk anak-anaknya, sisa-sisa ikan itu yang dimakan untuk dirinya sendiri.”

“Kamu pikir Belanda akan membuang Cut Nyak Dhien jauh-jauh ke Sumedang kalau mereka tidak menganggapnya sosok yang berbahaya?” Pertanyaan yang pernah diajukan oleh seorang penyair yang mengaku dari pedalaman Bali kembali menyentak saya. Di sini sedikit aneh, ketika teman saya kebanyakan adalah para penyair, mungkin saya ini pendongeng yang tersesat di antara para penyair. Saya senang berteman dengan mereka karena mereka pintar-pintar, punya wawasan yang sangat luas dan telah membaca banyak buku, rata-rata logika mereka sangat baik, argumen-argumen mereka bisa diterima oleh akal saya, hanya satu yang tidak boleh dilakukan, jangan pernah jatuh cinta pada para penyair.

Advertisements