Cerpen Sarah Nurhalizah (Pikiran Rakyat, 08 Juli 2018)

Untitled ilustrasi Andi Gita Lesmana - Pikiran Rakyat.jpg
Untitled ilustrasi Andi Gita Lesmana/Pikiran Rakyat

MIKAILA keluar dari ruangan itu dengan wajah muram. Ini tidak seperti yang ia bayangkan. Bayangan-bayangan kehidupannya yang bebas sirna sudah. Mulai sekarang, ia harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya ditambah dengan ibunya. Mikaila berkerja sebagai karyawan di sebuah bank swasta. Bekerja di bank yang selalu mengedepankan penampilan membuat Mikaila harus mengeluarkan sedikit dari gajinya untuk membeli kebutuhan yang menunjang penampilannya. Apalagi high heels yang selalu ia gunakan harganya tidak main-main. Ditambah sekarang Mikaila harus membeli obat­obatan dan juga ia harus segera mencari pekerja untuk membantu membereskan rumah dan mengurus ibunya.

NGOMONG-NGOMONG tentang ibunya, Mikaila menoleh ke samping, ke kursi yang ditempati untuk menunggu giliran dipanggil oleh suster untuk diperiksa oleh dokter di Rumah Sakit ini. Ibunya tidak ada di kursi itu, padahal Mikaila menyuruh ibunya untuk menunggu dia saat sedang berbicara dengan dokter.

Mikaila menghembuskan napasnya kasar. Ibunya itu selalu menyusahkan dia. Mikaila berkeliling mencari ibunya di sekitar Rumah Sakit besar ini. Bahkan, ia menanyai setiap orang yang ia lihat untuk menanyakan keberadaan ibunya dengan menyebutkan ciri-ciri ibunya.

Tempat terakhir dari Rumah Sakit ini yang belum didatangi oleh Mikaila adalah taman belakang Rumah Sakit. Mata Mikaila menjelajahi taman itu untuk mencari wanita yang sesuai dengan ciri-ciri ibunya. Saat matanya menangkap seorang wanita yang sedang berbincang dan tertawa bersama laki-laki muda yang umurnya kelihatan lebih muda dibanding dirinya. Mikaila segera menghampiri dua orang itu dengan perasaan kesal dan sudah siap menyemburkan kekesalan itu.

Mikaila berkacak pinggang, “Mamah ke mana aja sih?! Mika capek cari-cari taunya malah asyik ngobrol di sini. Mika kan udah bilang tunggu Mika selesai jangan main kabur aja, Mah.” Mikaila menyemburkan kekesalannya pada ibunya yang sedang menunduk penuh penyesalan.

“Maaf kalau saya menyela, saya yang membawa ibu Anda pergi ke taman ini. Tadi ibu Anda terlihat bosan saat menunggu di kursi tunggu. Jadi saya membawa ibu Anda kemari.” Laki-laki muda itu berdiri di hadapan Mikaila dengan wajah ramah dan senyum manisnya sambil mengulurkan tangannya. “Perkenalkan nama saya Stefano, Anda bisa memanggil saya Evan.”

Advertisements