Cerpen Risen Dhawuh Abdullah (Banjarmasin Post, 08 Juli 2018)

Empat Cerita ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group
Empat Cerita ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

“Imel. Ia bukan pacarku, ia temanku, ia belum punya suami, ia sudah menjadi seorang pejabat meski umurnya masih tiga puluh tahun. Bacalah empat cerita ini,” perintahku sembari menyodorkan tiga lembar kertas.

***

Satu

Imel, kubayangkan dirimu di suatu siang, pada saat sedang kuliah di ruangan tanpa AC namun ada kipas angin—dudukmu jauh dari kipas angin, kau diselimuti rasa panas yang hebat, seakan di depanmu ada kobaran api. Perutmu keroncongan, karena pada pagi hari kau hanya menikmati makanan ringan. Kau tak mungkin berbohong kepada dosen, izin ke kamar mandi, padahal kau keluar kampus, karena sepuluh menit lagi kuliah akan selesai.

Kemajuan teknologi membuatku berpikir—untuk mengatasi kondisi yang demikian, bagaimana semisal seplastik es teh bisa dikirim lewat WA—tentu saja aku akan mengirimkan padamu seplastik es teh bila semisal kau meminta padaku? Sesampainya di tujuan, orang yang dikirimi tinggal mengunduh. Seplastik es teh akan keluar dari android, dan langsung bisa dinikmati.

Ternyata Imel, bermula dari pemikiran itu, timbul pemikiran lain. Bagaimana kalau senja atau hujan dapat dikirim via WA? Kukira bila WA sudah ada sejak zaman pacar Alina mengerat senja, ia tak akan memasukkan senja itu ke dalam amplop. Ia akan langsung memasukan ke dalam android, dengan fitur tertentu, mengirimkan pada Alina lewat WA. Senja itu akan selamat sampai tujuan dengan begitu cepat. Dan hujan? Tentu saja ia dapat dikirim untuk membuat sejuk hati seseorang yang kita cintai.

Dua

Kemudian yang ketiga, hadir di pikiranku, karena kondisi usaha ayahku yang akhir-akhir sedang surut, entah kenapa. Dalam benakku, aku berimajinasi, bagaimana bila tak kunjung ada orang yang memperbaiki komputer di tempat ayah, sementara orang-orang terus datang silih berganti selama tiga puluh hari berturut-turut. Lho, memangnya mereka kenapa datang ke servis komputer ayahmu? Imel, pasti kau bertanya begitu. Iya, kan?

Mereka datang hanya untuk tanya-tanya. Tak ada yang datang membawa komputer yang rusak untuk diperbaiki. Tidak ada. Anehnya ayah tak marah. Ia melayani berbagai pertanyaan, yang kadang pertanyaannya sangat tidak bermutu. Aneh kan? Apakah imajinasiku kurang surealis?

Advertisements