Cerpen A.Warits Rovi (Padang Ekspres, 08 Juli 2018)

Celurit Lelaki Idiot ilustrasi Orta - Padang Ekspres
Celurit Lelaki Idiot ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Sahmat melinangkan air mata melihat keluguan anaknya. Kerap matanya pejam, masih dengan rembesan bening, kadang menetes ke bibir cangkir yang tinggal diringkuk ampas hitam di depannya.

Ia hanya bisa geleng kepala, dengan sepasang bibir terkatup dan hati yang kecut, kala matanya melirik sebilah celurit yang bergantung di tembok rumahnya. Ia percaya arwah moyangnya karib dengan celurit itu. Tapi Sahmat tak punya cara untuk menyampaikan pesan moyang kepada anak satu-satunya yang idiot, bahwa kehidupan harus dilalui dengan serius, bahwa martabat keluarga harus dijaga dengan celurit.

Sahmat bingung. Ia hanya bisa berbagi dengan lirik kesunyian. Berdialog dengan suara hatinya sendiri. Sebelum akhirnya beranjak pergi dari ruang depan rumahnya, menuntaskan air matanya di kamar yang senyap.

***

Haris masih terus tertawa bahagia dengan burung-burungan tanah yang ia miliki. Ia coba layangkan dengan tangan kanannya, sambil kadang ia tukikkan ke tepi meja, beranjak diterbangkan ke sandaran kursi, lengkap dengan bunyi tiruan yang terus ia desiskan dari bibirnya yang hitam.

Haris sangat enteng menyikapai setiap yang terjadi pada dirinya. Ia menganggap kehidupan tak perlu dilalui dengan keseriusan, dan ia hanya butuh celurit mainan, bukan celurit sungguhan.

Perihal celurit yang bergantung di tembok, hanya ia lihat begitu saja. Kalau diambil, tak lain kecuali digunakan sebagai alat mainan. Perang-perangan entah dengan siapa. Ia melompat-lompat sembari menyabetkan celurit itu di udara, seolah ada lawan yang tengah dihadapi.

Beberapa saat setelahnya, celurit itu ia lempar begitu saja ke pojok kamar. Membiarkan celurit sakral itu telanjang sendirian, penuh balutan sawang dan debu. Dan Haris keluar ruangan sambil nyanyi-nyanyi nyaring, sedang tangannya kembali menimang burung-burungan tanah kesayangannya.

***

Advertisements