Cerpen Mahfud Ikhwan (Jawa Pos, 08 Juli 2018)

Bekas Bek ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Bekas Bek ilustrasi Budiono/Jawa Pos

IA pulang dari lapangan lebih cepat dari yang direncanakannya.

Saat menyepakati ajakan bocah-bocah itu, ia pikir akan meladeni mereka barang setengah jam. Nyatanya, belum lagi genap dua puluh menit dari saat ia dengan gembira menancapkan gawang kecil itu, ia sudah berada di jalan, menuju pulang, dengan langkah gontai, terseok, sempoyongan. Betisnya kejang, dengkulnya linu, pahanya ngilu, mata berkabut, kepala berdenyut. Dan, rasa pahit di mulut. Cuih! Sejak muntah di belakang gawang, ia belum berkumur dan minum.

Dalam langkahnya yang huyung, ia kepikiran pertanyaaan yang menakutkannya: apakah sepak bola telah benar-benar meninggalkannya? Jika sepak bola telah benar-benar menguap dari tubuhnya, masihkah ia seorang bek—sedikitnya, seorang bek yang buruk?

Sejak sebelum pulang, ia sudah memikirkan comeback kecilnya. Ini kepulangan yang istimewa, tak seperti kepulangan pada lima tahun terakhir—kepulangan rutin seorang buruh pabrik, yang begitu sampai rumah langsung kepikiran balik. Ia sudah pamit dengan atasannya untuk seterusnya. Pabrik itu, dengan gaji bulanan dan THR di pengujung Ramadan, mungkin menjanjikan masa depan. Tapi ia ingin masa depan yang berbeda. Dan, tentu saja, ia juga menginginkan masa lalu paling berharga yang hilang ditelan hari-hari kerja dan jam-jam lembur: main sepak bola.

Ia tahu sepak bola tak akan pernah kembali kepadanya seperti dulu, tapi setidaknya ia ingin merawat yang masih tersisa, sebisanya. Ia berencana menuliskannya. Di kepalanya ada cerita yang telah ngendon bertahun-tahun dan kini tak lagi bisa ditunda untuk digarap. Ia ingin memulainya dengan menjenguk lapangan itu. Tempat ia pernah tumbuh. Tempat ia pernah punya mimpi. Menjadi pemain sepak bola. Persisnya, seorang bek.

“Lapangan. Jam setengah empat!” begitu pesannya pada Muslim, temannya, sesampai di rumah. “Aku mau comeback,” lanjutnya, dengan tanda lidah menjulur di ujungnya. Muslim menyanggupinya. “Bola ada,” tambahnya.

Nahas, ia tak menemukan lapangan yang dicari. Yang ada hanya sebuah tanah telantar dengan alang-alang nyaris sepinggang. Entah kapan sepak bola terakhir dimainkan di tempat itu. Tak ada tanda-tanda yang tersisa untuk menyebut tanah kosong itu sebagai lapangan, kecuali kenangan atasnya. Di sebuah tonggak yang bisa diduga sebagai sisa gawang, seekor sapi dicencang, tengah memamah biak. Dan Muslim ingkar janji. Ia tak muncul. Bolanya juga.

Advertisements