Cerpen Maula Nur Baety (Rakyat Sumbar, 07-08 Juli 2018)

Membelah Rimba ilustrasi Rakyat Sumbar
Membelah Rimba ilustrasi Rakyat Sumbar

UNTUK pertama kali dalam setengah hidup. Baru merasakan getar naik pesawat. Menilik banyaknya awan menggumpal. Mendengar instruksi bagian informan pesawat. Memperhatikan setiap gerak tangan pramugari yang berdiri di tengah kursi penumpang. Menikmati celoteh anak kecil-kecil yang berteriak memanggil ibu dan bapaknya untuk melihat cerahnya langit terasa indah.

Dalam termenung menatap luar jendela kecil. Aku bergumam lirih yang hanya didengar olehku seorang, “tercapai sudah impian masa kecil”.

Zaman tahun 2005 di desa. Para anak kecil selalu berteriak “kapal njaluk duwite” dalam bahasa Jawa. Dalam arti bahasa Indonesia “pesawat minta uangnya” dan kami tidak tahu siapa yang memulai dan apakah pernah terjadi. Namun konon pernah terjadi sehingga menjadi bulan bulanan anak desa setiap lihat pesawat terbang.

Pada dasarnya menurutku. Naik apapun dalam bentuk kendaraan apapun sama saja. Ketika naik becak, sama halnya naik sepeda dibebatuan. Naik bis serupa naik angkutan umum lainnya. Naik mobil, mau bentuk mobil apapun sama selama berbeda aroma dan kebersihannya saja. Naik kereta, walaupun kereta terlihat melaju kencang namun ketika di dalam kau tidak akan merasa kereta itu melaju kencang justru melaju biasa saja. Naik pesawat, kau hanya merasakan melayang ketika naik dan merasakan getar ketika turun. Naik kapal laut, sama saja naik perahu wisata lainnya sama-sama terombang ambing di laut. Itulah yang kurasakan dari semua yang sudah pernah kunaiki, sama halnya naik mobil. Mau mobil BMW, Avanza, Pajero sport, Merci, Toyota kijang, Ferrari, Nissan, Grandmax, Alpard sampai mobil CRV tetap saja ber-Ac. Semua itu sudah pernah aku naiki namun belum pernah kumiliki jadi tidak ada yang bisa dibanggakan. Menaiki berbagai mobil hal biasa bagiku, namun memiliki berbagai mobil hal diluar akal.

Pesawat telah mendarat dengan selamat. Padahal semalam sebelum berangkat banyak ketakutan yang tidak bisa dikendalikan namun rasa lega telah tiba di Bandara Radin Intan II Bandar Lampung membuatku menarik napas bersyukur. Apalah saya yang masih awam hanya bisa bagai orang bodoh dengan mengikuti orang orang yang sama dalam satu pesawat lantaran belum memahami bagian ambil koper. Hingga aku pun ikut dalam antrean dan ternyata menunggu koper milik masing masing. 10 menit berlalu, namun koper merah kecilku tak kunjung tiba. 20 menit berlalu, namun masih saja belum tampak hingga kakiku yang bergaya dengan menggunakan heels terasa pedih karena pegal. 30 menit kemudian, akhirnya tiba dan terlihat di antara koper lain. Aku mengenal betul barang itu sebab baru ku beli beberapa bulan lalu yang harganya mampu menguras kocek.

Advertisements