Cerpen Iis Soekandar (Rakyat Sumbar, 07-08 Juli 2018)

Halaman Berstabilo Pink ilustrasi Rakyat Sumbar
Halaman Berstabilo Pink ilustrasi Rakyat Sumbar

AKU tak pernah beranjak dari meja belajar. Meski begitu aku tahu semua kegiatan Resti. Akulah yang membantu Resti mengurangi rasa sedihnya. Ketika dia menulis di kertasku lalu menuangkan kekesalannya, legalah semua yang menyesakkan dada. Saat beruntung, aku juga menjadi luapan bahagianya. Sambil senyum-senyum, dia berbagi kebahagiaan itu, juga melalui tulisannya.Yah, rahasia tersembunyi, aku lebih tahu, dibanding siapa pun, termasuk mama. Bahkan urusan tertentu, Resti sengaja mengunci rapat-rapat hatinya kepada mama.

Untuk itulah Resti membeliku. Kutahu pada tulisannya yang pertama. Dia mengatakan baru mengenal cowok yang mampu membuat hari-harinya indah, senyum-senyum sendiri, sekaligus merasa mendapat perhatian lebih dibanding cewek cantik mana pun.

Lalu bak artis yang sedang berakting dia ungkapkan semua pengalamannya di hadapanku, lengkap dengan gerak tangan dan gestur.

Sudah membawa apel merah dan hijau? ceritanya pada kegiatan pengenalan lingkungan sekolah awal menjadi peserta didik baru.

Lalu kutunjukkan dua buah apel yang wajib dibawa bagi setiap peserta didik baru. Ketika dia menanyakan umbi-umbian sebagai tugas lainnya, kusodorkan ketela warna ungu pemberian mama dari rumah.

“Hm, rasanya manis, seperti wajah kamu,” ungkap cowok itu sambil manggut-manggut memandangku.

Alamak….

Semalaman Resti tak dapat tidur setelah mengukir kata-kata pada halaman pertamaku. Untung saat itu malam Minggu.

Tapi apa kata Arneta, sahabatnya? Suatu saat mereka selesai mengerjakan tugas. Sambil memberesi buku-buku dan berkas di lantai, aku mendengar semuanya.

“Kamu jangan keburu ge-er. Orang tenar seperti dia pasti banyak penggemarnya. Ganteng, junkis, pandai pula berorganisasi. Buktinya dia menjadi ketua OSIS.”

Resti tercenung.

“Ah, enggak, aku baru mengagumi dia sebatas ketua OSIS,” Resti buru-buru mengoreksi diri.

Advertisements