Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 01 Juli 2018)

Tak Ada Patung bagi Tapol ilustrasi Budiono  Jawa Pos.jpg
Tak Ada Patung bagi Tapol ilustrasi Budiono/Jawa Pos

JALAN ke Waeapo seperti sungainya yang lebar dan berubah-ubah; alur baru muncul di antara alur lama yang tak lagi dilalui arus. Jalan di tepi Teluk Kayeli dan kaki bukit Batuboi ini juga begitu; tebing dipapas, jurang ditimbun, jembatan diganti, dan aspal kelokan lama masih tampak di sebalik semak savana. Dengan pola itu, jarak Namlea-Waeapo kian dekat sebenarnya. Namun, tidak bagi Sukamto Resbowo.

Laki-laki 68 tahun itu gelisah. Keringat mengalir dari keningnya yang penuh gurat luka. Ia telah menempuh perjalanan panjang dari Piyungan, Jogjakarta. Dan terasa makin panjang menempuh sisa jarak 40 km lagi. Rahang kukuhnya yang dibalut kerut kulit, bersitahan dari tekanan. Untunglah matanya masih terang melihat pohon-pohon kayu putih, meriap kemilau oleh cahaya matahari, memberinya penghiburan murni.

Fajar matahari itu yang mula-mula ia lihat muncul dari arah Sanleko, tadi, saat ia berada di Pelabuhan Namlea. Kapal Intim Teratai yang membawanya dari Ambon ke Pulau Buru sampai di situ menjelang subuh. Penumpang segera turun diburu tukang ojek, tapi sebagian masih leyeh-leyeh di tempat tidur menunggu pagi sempurna.

Sukamto termasuk yang menunggu. Maklum, ia tak punya siapa-siapa di Namlea. Tujuannya hanya satu: Waeapo. Sudah ia cari informasi bahwa oto ke Waeapo—mikrolet yang dimodifikasi seperti bus mini—baru berangkat sekira pukul 07.00 WIT.

Maka ia menunggu, tapi tidak di tempat tidur. Ia bangkit menenteng tasnya yang berisi sejumput pakaian salin, berdiri di dek menatap hamparan riak Teluk Kayeli. Meski dilingkup cahaya samar, ia masih bisa mengenali letak Kampung Kaki Air dan Sanleko.

Advertisements