Cerpen Roy Martin Simamora (Analisa, 01 Juli 2018)

Jeruk Purut ilustrasi Google.jpg
Jeruk Purut ilustrasi Google

TEPAT di belakang rumah kami, tumbuh sepokok jeruk purut. Pohon jeruk purut itu ditanam oleh ibuku, kini tumbuh subur. Batang yang lumayan besar, tebal dan kuat. Dedaunan hijau nan lebat tanda asupan unsur hara dalam tanah terpenuhi. Dahannya yang kokoh mampu menopang buah yang mulai membesar. Aku masih ingat, sewaktu masih duduk di bangku SMA, pohon jeruk itu masih setinggi lutut kaki orang dewasa. Tetapi sekarang, batangnya sudah mulai meninggi. Hampir mencapai atap rumah kami.

Ada hal yang paling aku ingat dari pohon jeruk purut itu hingga sekarang. Sekumpulan burung pipit akan bergumul pada dahan pohon sembari bersahutan satu sama lain. Ekornya bergoyang ke sana ke mari seperti pertanda kepada burung yang lainnya. Beberapa burung pipit mencari tempat untuk bersarang, atau sekadar berteduh dari terik Matahari.

Aku mengamati perilaku burung pipit itu setiap hari. Beberapa di antara burung-burung itu akan mulai membangun sarang dari pagi hingga siang hari dengan ranting-ranting kecil, ilalang kering, dedaunan kering, bulu ayam yang terkulai di tanah, serta bahan-bahan lainnya. Semua macam komponen sarang dibawa entah dari mana. Setiap hari, burung pipit itu menyulam satu demi satu komponen sampai berkelindan menjadi sebuah sarang yang nyaman dan kuat. Pejantan dan betina saling bergantian.

Semenjak pohon jeruk purut tumbuh, dari generasi ke generasi burung pipit sudah dilahirkan dari sana. Mulai dari dahannya yang paling bawah hingga paling atas dikerumuni sarang-sarang burung pipit. Ciak burung pipit mewarnai pagi dan terbitnya Matahari. Sebuah pertunjukan yang tak pernah kulihat sebelumnya, burung pipit akan melompat dari satu ranting ke ranting yang lain. Sungguh, kami sekeluarga tak pernah berpikiran untuk mengusik keberadaan burung-burung itu. Justru, burung-burung itu memberikan kenikmatan tiada tara setiap pagi dan menjelang sore: kicauan indah bersahutan menambah kedamaian dan ketenteraman.

Bisa dibayangkan betapa gigihnya pengorbanan burung pipit tadi demi melanjutkan hidup dan berkembang biak. Burung-burung itu tak pernah sendiri membangun sarangnya. Ia ditemani pasangannya. Terik Matahari, rintik hujan tak jadi soal demi tercapai suatu tujuan hidup.

Di samping itu, burung pipit wajib berterima kasih kepada pohon jeruk purut yang bersedia memberi tempat. Memberi naungan yang nyaman dan aman. Tak hanya itu, burung pipit pun boleh memanjatkan syukur karena dijauhkan dari gangguan tangan usil pencuri telur dan tangan jahil manusia.

Advertisements