Cerpen Ria Lestari Baso (Banjarmasin Post, 01 Juli 2018)

Pesan Seharga Rp 21 Ribu ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Pesan Seharga Rp 21 Ribu ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

Lelaki yang mengenakan kemeja merah, ayahku. Jika kau lihat di sampingnya ada perempuan berwajah tirus dan memiliki kulit hitam manis, maka itu adalah Ibuku. Ibu memang gemar memakai lipstik berwarna cokelal pucat. Tak usah kaget jika melihatnya.

Sejujurnya, aku tak tabu betul nama mereka. Kadang kudengar dari sini, orang-orang memanggil ayah dengan sebutan Par dan ibu hanya dipanggil dengan sebutan Na.

“Na, kok bisa?”

“Kamu kan tahun depan sudah harusnya berangkat menggantikan ibumu. Kok ya bisa hamil begini.”

***

Aku hidup berdua awalnya, sebulan lalu teman bermainku luruh. Ibu bilang itu sebuah musibah, meskipun aku tahu bahwa ibu sebenarnya meminum sesuatu untuk meluruhkan kami berdua. Aku selamat. Ibu bersedih beberapa hari karena merasa belum sepenuhnya berhasil. Awalnya, kukira ibu akan mengurungkan niatnya, ternyata ibu tetap meminumnya ditemani oleh ayah yang terus memaksa dengan sedikit membentak.

“Bagaimana ini?”

“Aku juga tidak tahu, Na. Tapi ingat jangan kau memberitahukan siapa pun dulu. Siapa pun!”

“Perutku makin besar, menyembunyikannya pun percuma.”

“Sudah, kau menurut saja. Sial memang, alat murahan itu tak berguna. Aku khilaf.”

Dari dalam sini aku bisa mendengar apa pun. Pernah kudengar ibu bercerita tentang kata khilaf. Sekarang ayah yang menghamili ibu juga menggunakan alasan khilaf. Kata ibu, semua orang bisa membela diri dan menjadi tak bersalah hanya dengan mengatakan bahwa ia khilaf.

***

“Buk, sejak kapan di rumah?”

“Ibuk sudah berhenti. Ibuk memutuskan pulang karena kamu, Na. Menyesal ibuk pergi meninggalkan kamu di rumah sendiri. Ibuk maunya kamu sekolah baik-baik. Sepeninggal mbah kulihat kau memang makin aneh saja. Itu apa pakai lipstik begitu, masih bocah.”

Advertisements