Cerpen Indra Tranggono (Kedaulatan Rakyat, 01 Juli 2018)

Kobbar ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Kobbar ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

MAYAT Kobbar ditemukan bermandi darah di halaman parkir Zenyaph Cafe, dini hari. Ada enam timah panas menembus dada lelaki itu. Otoritas kepolisian Distrik Hamburga menyebut, Kobbar diserang gerombolan bersenjata yang belum diketahui identitasnya. Orang-orang kaget dan terguncang, namun mereka tetap diam. Nama Kobbar telah jadi nama terlarang di negeri kami, sejak tim nasional kami gagal menjuarai Piala Sejagat.

***

Mestinya negeri jadi juara Piala Sejagat, jika Kobbar tidak membuat gol bunuh diri. Dia bermaksud menghalau bola, tapi bola itu melintir, melenting dan masuk ke gawang sendiri. Akhirnya, timnas kami harus merelakan Aramica sebagai juara. Impian bangsa kami selama hampir 40 tahun pun kandas.

Bagi warga negara kami Republik Colosenia sepak bola sudah jadi agama. Umumnya bangsa kami menganggap menang dalam sepak bola sama artinya dengan membela Tuhan. Bangsa kami sangat percaya Tuhan terlibat dalam sepak bola. Dalam sepak bola itulah, Tuhan menunjukkan kuasaNya. Menang-kalah, Tuhan lah yang menentukan. Konon keyakinan itu sudah berusia ribuan tahun. Kakek dan orang tua kami selalu bilang jadilah manusia yang disayangi Tuhan dengan selalu menang dalam sepak bola. Maka, menjadi pemain sepak bola itu wajib bagi setiap anak laki-laki di negeri kami.

Keyakinan itu pula yang membikin semangat Kobbar berkobar-kobar untuk menjadi pemain sepak bola. Sejak kecil ia sudah “ngeloni” bola. Bernapas dengan bola. Lalu saat remaja ia jadi pemain bola amatir. Dan ketika potensinya bersinar, seorang pemandu bakat mengambilnya, memasukkannya dalam tim yunior profesional di provinsi Tarrcam. Hanya beberapa bulan akhirnya Kobbar direkrut tim senior Hollacos FC, klub yang dimiliki Klabedor Horaweddy, pengusaha besar yang mengusai peredaban minyak dan narkoba.

Advertisements