Cerpen Makanudin (Republika, 01 Juli 2018)

Ketupat dan Rendang Daging ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Ketupat dan Rendang Daging ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Sudah tergeletak di meja ruang keluarga sebak kecil ketupat. Aku sudah membayangkan memakannya. Kupat yang bentuknya tidak besar, tapi tampak menggoda. Pastinya nikmat dan legit.

Di sebelahnya satu baskom semur daging yang dipotong-potong tipis lebar serupa irisan-irisan bawang bombai. Semur pun begitu kental sedikit kuah, tapi tidak berlinangan. Macam itu yang kuinginkan. Aku memang tidak suka yang berlebihan kadar kolesterol. Bagiku bisa memberi rasa nikmat. Tapi, aku sebenarnya tak menginginkan menu senikmat itu yang justru kesulitanku meninggalkannya. Aku akan menginginkan menu itu setiap hari. Tapi, bagaimana di Lebaran ini, tentu aku harus membutuhkan berhari-hari. Padahal, Lebaran hanya satu atau dua hari, selanjutnya menu semacam itu sudah jarang. Bahkan, kemungkinan habis. Dan, terpaksa akan mengekang keinginan menikmati kupat yang diguyur kuah semur.

Aku tak menghiraukan rantang di sebelah bak dan baskom yang kuduga di dalamnya juga menu Lebaran. Entah apa. Tapi, meski semewah dan senikmat apa pun isi rantang itu tak menarik bagiku. Karena aku tidak berkeinginan sama sekali.

Lalu aku menoleh ke segala arah begitu kuketahui hanya sedikit menu menyambut Lebaran. Hanya yang tersedia di meja yang merapat ke dinding. Dan, aku tidak memastikan apakah menu-menu lainnya tersimpan juga di lemari. Yang pasti kuketahui suasana Lebaran tak berbeda dengan hari-hari lain. Mungkin hanya kupat dan semur itu saja yang masih tampak di peng lihatanku.

Aku masih berdiri di depan pintu ruang tamu yang tanpa daun, tak bergerak, menghadap ke ruang keluarga. Khawatir akan mendapatkan sesuatu yang tak perlu kuketahui meski rumah adikku sendiri. Maka, aku tak melangkah.

“Kenapa berhenti, Bu?” tegur Firda, gadis kecilku yang juga berdiri merapat ke dinding ruang tamu di sela antara karpet yang terhampar. Aku merasakan dengus napasnya yang tertahan-tahan seakan mengatur agar aku tak mendengar, yang padahal tak akan kuusik meski dengusan nyaring menyikapiku yang berdiri dalam kecurigaan mendapati suasana rumah. Ia terkesima dengan sikapku. Lalu aku menoleh ke belakang. “Tidak kau tutup pintu, Firda?”

Advertisements