Cerpen Midadwathief (Radar Banyuwangi, 01 Juli 2018)

Huruf ilustrasi Radar Banyuwangi.jpg
Huruf ilustrasi Radar Banyuwangi 

“Ini huruf apa?” Bu Lastri menulis huruf M besar-besar di papan tulis. Ruangan kelas tampak lengang menyisakan dua orang saja: Bu Lastri dan Rinto. Semua murid, kecuali Rinto, sudah pulang. Rinto masih tinggal di kelas, sebab ia adalah murid ‘istimewa’.

“Ka…,” jawab Rinto. Suaranya serak. Dahinya dipenuhi peluh meski cuaca tidak panas.

“Huruf apa, Rinto? Ayo anak pandai, kamu pasti bisa.” Bu Lastri mencoba memberi dorongan semangat kepada muridnya yang satu ini, meski sebenarnya ia sendiri mulai jenuh dan putus asa.

Kelas ekstra eksklusif ini sudah berlangsung hampir satu jam penuh dan belum juga tampak tanda-tanda akan membuahkan hasil. Sudah belasan kali Bu Lastr bertanya tentang huruf M, dan Rinto masih tetap menjawabnya sebagai huruf K. “Ka…

Huft…” Bu Lastri mendesah sepelan mungkin, sekira cukup untuk didengarnya sendiri. Ia tak ingin Rinto mendengar desahan putus asanya. Bu Lastri menyerah untuk huruf M. “Baiklah, Rinto. Tidak apa-apa. Sekarang coba jawab ini huruf apa?”

Bu Lastri menunjuk huruf C yang juga ditulisnya besar-besar.

“Pe…”

Lastri terdiam. Ia pandangi wajah salah satu murid barunya itu, dari dasar kaki hingga ujung rambut. Hari ini adalah hari pertama Rinto mulai menapaki jenjang sekolah dasar. Ia masuk kelas satu bagian A. Wali kelasnya adalah Bu Lastri. Dan di hari pertama ini, Bu Lastri sudah mendapat PR berat: Rinto.

Rinto sebenarnya tidak berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia suka bermain, menghabiskan siang di sawah dengan bermain layang-layang, menggunakan jam istirahat untuk bermain kelereng di halaman sekolah yang belum dipaving, dan hal-hal lumrah lainnya yang kerap dilakukan oleh anak seumurannya. Satu-satunya hal yang membuat Rinto dianggap berbeda dengan yang lainnya adalah kenyataan bahwa di usianya yang sudah menginjak 6 tahun, ia masih kesulitan melafalkan beberapa huruf dengan benar. Meski begitu, sebenarnya ini juga masih tergolong hal yang wajar—dengan tanda kutip. Rinto tidak sendirian. Banyak orang yang hingga dewasa, bahkan tua, belum mampu melafalkan bunyi huruf dengan sempurna. Istilah untuk kesulitan ini biasanya disebut cadel. Umumnya orang yang cadel kesulitan melafalkan huruf R dengan baik dan benar. Dan untuk Rinto, selain huruf R, ia juga menambahkan huruf M, N, dan C dalam daftar huruf-huruf yang sulit diucapkannya dengan benar.

Advertisements