Cerpen Ardani H.K (Fajar, 01 Juli 2018)

Belut yang Ingin Jadi Raja ilustrasi Fajar.jpg
Belut yang Ingin Jadi Raja ilustrasi Fajar

“Sama sekali tak kuduga, kalau Belut mencalonkan diri jadi raja,” ujar Kepala Suku Semut di hadapan Penasihat Suku. “Benar-benar licin dan licik seperti belut.”

Pagi itu, Suku Semut geger mendengar berita kalau Belut bakal mencalonkan diri menjadi raja. Padahal, Belut dikenal sebagai pendukung setia Kunang-kunang, yang notabene sudah mendeklarasikan diri sebagai calon raja, menantang Kupu-kupu sang petahana.

“Mohon maaf, Ayahanda. Bukannya deklarasi Belut yang ingin menjadi raja, peta perpolitikan sudah bisa terbaca?” tanya Semut Muda, putra sulung Kepala Suku Semut.

“Peta perpolitikan tahun depan tidak mudah dibaca, Anakku.”

Tetiba, seorang pengawal masuk ke dalam. Memotong penjelasan Kepala Suku. Dengan bahasa agak gemetar, pengawal memberi kabar jikalau rakyat Suku Semut mogok kerja. Kini, mereka berkumpul di depan gerbang. Menunggu Kepala Suku Semut menjelaskan perihal deklarasi Belut menjadi raja.

Kepala Suku Semut mengangguk pelan. Dia mengerti, bagaimana rakyatnya kebingungan terkait berita yang sudah tersebar. Bahkan, beberapa pengawal juga masuk. Menyerahkan surat yang diselipkan kaki merpati dari berbagai suku. Ada dari Suku Tikus. Suku Kera bahkan Buaya. Semuanya berisi cerita tak terduga, apalagi kalau bukan tentang Belut yang mencalonkan diri menjadi raja.

“Sebaiknya, Kepala Suku menemui rakyat sekarang juga. Saya khawatir, mereka bakal marah jika menunggu terlalu lama,” usul Penasihat Suku.

Kepala Suku mengangguk setuju. Lalu berdiri dan berjalan menuju gerbang diikuti penasihat, keluarga dan pengawal. Setelah gerbang dibuka, tampak ribuan semut menyemut. Benar-benar mereka mogok kerja. Semua terlihat antusias meminta pandangan Kepala Suku Semut. Tak menunggu lama, sang Kepala Suku berdiri sambil memegang pengeras suara.

Advertisements