Cerpen Davit Kuntoro (Solo Pos, 01 Juli 2018)

Bedak dan Lipstik ilustrasi Solo Pos
Bedak dan Lipstik ilustrasi Solo Pos

Setelah berjingkrak dari hamparan pohon singkong, berhari-hari keringat yang terkucur mulai kering. Namun berdalil isak tangislah yang terkadang menjadi nada-nada kepasrahan. Mau bagaimana lagi, daun singkong yang acapkali menjadi lalapan sudah gundul pohonnya. Alih-alih nasi akinglah untuk pengisi perut.

“Cobalah kau tanam cabai, kacang panjang, atau kubis. Siapa tahu lebih untung banyak!” ujar Kang Darmin.

“Kalau sudah kepepet begini baru kepikiran. Besok lagi kalau bulan ini hujan, Kang,” jawabku.

“Lihat saja tetangga sebelah. Mereka dengan hikmat menikmati hasil panennya!” begitu lagi kata Kang Darmin.

Bagaimanapun aku tetap bersyukur. Nasi aking bukanlah makanan menjijikkan. Untuk sementara saja nasi aking terbayang menjadi nasi uduk. Barangkali gizinya lebih banyak nasi aking dari pada nasi-nasi baru. Maksudnya lebih bergizi di dompet. Kalau di perut yang terpenting terisi.

Terpaksa? Mungkin itu benar. Sebab wajahku sudah lama kekosongan dari bedak. Juga bibirku yang kering karena lipstik merah sudah habis dua tahun yang lalu. Tapi sedikit bersyukur pada Tuhan. Nasi aking tidak menjadi racun di perutku. Alih-alih berat badanku sudah bertambah. Bertambah kering dan mulai mengendur maksudnya.

“Bagaimana, Kang, nasinya dilalatin ini!” kataku sembari meniupkan udara dari bibirku.

“Biarkan dilalatin. Siapa tahu lalat itu membawa garam atau gula. Jadi nasi akingnya tidaklah hambar lagi,” jawab Kang Darmin.

“Tapi jorok, Kang. Siapa tahu lalat itu membawa penyakit!” ujar aku yang khawatir dengan nasi akingnya.

“Buktinya Akang sehat-sehat saja. Sudah kebal tubuh Akang!”

***

Advertisements