Cerpen Pangerang P. Muda (Tribun Jabar, 01 Juli 2018)

Bapak Ingin Jadi Halimun ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Bapak Ingin Jadi Halimun ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

TANAH pemakaman itu telah lama Bapak siapkan. Luasnya sekitar 4 ha, di atas perbukitan. Bapak tidak ingin bila areal pekuburannya terkesan angker, yang membuat anak-cucunya tergesa-gesa pulang alih-alih khusyuk berziarah. Bapak ingin areal kuburannya menjadi tempat tetirah anak-cucunya. Makanya di situ dibangun pula sebuah Vila, tempat kami berkumpul di ujung pekan setiap akhir bulan.

Sejak Vila selesai dibangun, sudah tiga kali kami berkumpul di situ. Empat anak telah memberi Bapak sembilan cucu, membuat acara kumpul kami cukup riuh. Namun, kesan keriuhan yang penuh ceria itu buyar berganti duka begitu Bapak meninggal.

Duka itu sedang menyelimuti keluarga kami ketika masalah lain muncul. Lubang kubur yang disiapkan untuk Bapak terisi air. Dan itu adalah lubang ketiga yang digali. Dua lubang sebelumnya, setelah selesai digali, dasar tanah langsung merembeskan air. Rembesan air itu baru berhenti saat permukaannya merendam pinggang penggali.

Rembesan air itu mematikan akalku. Ini musim kemarau, dan areal tempat menyiapkan lubang kubur ada di ketinggian. Dari mana rembesan air sebanyak itu? Tiga lubang keadaannya sama. Sekop dan perejang bergeletakan di depan tujuh orang penggali yang berselonjor kelelahan di atas tanah berumput. Tidak terpikir lagi menggali lubang baru. Kuduga hasilnva akan serupa. Dan sangat miris membayangkan bila seluruh permukaan tanah di sini kami penuhi dengan lubang-lubang pemakaman yang serupa bak penampung air.

Kuperintahkan asisten Bapak mencari pompa air. Hanya solusi itu yang sempat melintas di pikiranku. Dua pompa lalu digenjot penuh, menggerung-gerung mengoyak kesenyapan daerah perbukitan.

Advertisements