Cerpen Azizi Sulung (Rakyat Sumbar, 30 Juni-01 Juli 2018)

Perempuan Langit ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Perempuan Langit ilustrasi Rakyat Sumbar

BOLEHLAH kita menyebutnya siapa saja. Barangkali ia adalah Hawa yang tercipta untuk memenuhi kegelisahan Adam. Ataukah ia adalah Hawa yang lain yang tercipta dari tulang rusuk Adam yang lain, itu pun boleh jadi.

Anehnya, dari manakah ia berasal? Kalau mungkin ia keturunan manusia, tapi kenapa selama ini ia sama sekali tidak menunjukkan ciri kemanusiannya. Apa mungkin ia bidadari, atau malaikat yang sengaja diturunkan ke muka bumi ini? Tidak juga, kadangkala ia juga bisa menangis dan kecewa.

Bermula dari kejadian sederhana, Hamid seakan terbawa entah ke alam apa? Ia hanya dapat saksikan gelombang awan, berserakan. Burung-burung sesekali melintas di atasnya. Tak satu pun makhluk lain ia dapat saksikan, hanya gumpalan awan dan sepasang burung yang sesekali melintas di atasnya. Apakah mungkin ini yang menurut orang-orang kota surga, keberadaannya tidak bisa tergambar oleh mata, hanya saja kita bisa merasakannya. Pada tempat ini, manusia akan terkabul semua permintaannya, hingga yang tidak dapat kita temukan di alam dunia, pada kota ini, kita tersuguhinya. Andai saja, awan ini tidak hanya selalu putih atau kebiru-biruan, sesekali saja ia berwarna kuning kecoklatan, dan pohon-pohon di sekitar ini sekali saja berubah menjadi emas keseluruhan.

“Astaga!” Hamid sambil lalu memukuli tubuhnya. Ia sama sekali tidak percaya dan tidak sadar dengan keadaan yang ia saksikan saat ini. Keinginannya benar terkabul, gumpalan awan itu mendadak menjadi kuning kecokelatan, dan daun-daun itu seketika berwujud emas. “Hahaha…” Pekik Hamid perlahan. Tidak salah kalau Idris dulu pernah ketagihan ketika kali pertama mendatangi tempat ini. Kemudian Adam sampai-sampai lupa diri, karena kita wajib percaya kenikmatan di sini, bagaimana kita membandingkan dengan kenikmatan di muka bumi?

“Apa mungkin Hawa akan lahir yang kedua kalinya, kalau misalkan hari ini, aku sesekali saja menjelma sebagai Adam?” Hamid tertidur. Entah itu tidur yang bagaimana? Bukankah ia sedang dalam mimpi atau apakah itu tepatnya, barangkali ini suatu yang dapat membuktikan bahwa dalam mimpi kita juga dapat menemukan kenyataan. Tidak lama ia pejamkan mata, tiba-tiba saja Hawa yang ia inginkan hadir di dekatnya. Hamid mencoba menyapanya, tapi ia tidak peduli dengan perkataan Hamid. Ia juga mencoba menyentuhnya, tapi tangannya tak mampu menggapai. Hamid kembali memukuli tubuhnya, tapi anehnya ia juga tidak mampu menyentuh tubuhnya sendiri. “Leh, apa-apan ini, mataku kan bisa menyaksikannya, tapi mengapa tangan ini tidak mampu menyentuhnya?” Hamid mencoba berandai, tidakkah semua ini kuasa menjadi suatu yang nyata? Bim salabim… Hawa yang di dekatnya itu seketika menyunggingkan sedikit senyuman, dan melempar penglihatannya tepat lekat pada wajah Hamid.

Advertisements