Cerpen Anwarsyah (Rakyat Sumbar, 30 Juni-01 Juli 2018)

Dokter Ali yang Dinanti ilustrasi Rakyat Sumbar
Dokter Ali yang Dinanti ilustrasi Rakyat Sumbar

PAK Ali-nya ada, Bu?” Tanya salah seorang kepada Bu Tati yang bertugas di loket rekam medis Puskesmas ini.

“Ada,” tukas seorang ibu, tanpa melihat dokternya sudah datang atau belum.

“Alhamdulillah! Kemaren dia tidak ada, saya pulang aja lagi,” jawaban bapak itu bahagia.

Setelah mengambil nomor antrean. Mencari-cari tempat duduk dan melihat tempat yang kosong di samping saya. Lalu duduk di samping saya sama-sama menunggu panggilan antrean.

“Sakit apa Pak?” Saya bertanya.

“Deman. Panasnya turun naik. Saya sudah minum obat dari warung samping rumah. Tapi belum ada angsurannya.”

“Adik sakit apa?” Dia balik bertanya.

“Saya juga demam. Di rumah ada sedikit apotik keluarga; saya sudah minum Paracetamol dan Asam Mefenamat untuk sakit kepala, CTM dan lainnya. Ketika saya minum obat, panasnya turun. Enak. Tapi ketika pengaruh obatnya habis, badan terasa nyeri-nyeri dan panas lagi. Sudah lima hari sampai sekarang. Biasanya ketika saya minum Paracetamol tiga hari, insya Allah badan berangsur sehat,” jawab saya menjelaskan kondisi sakit saya

“Mudah-mudahan sembuh! Dokter Ali ada.” Dengan senang dan yakin, dia menerangkan bahwa dokter Ali-nya ada.

“Dokter Ali itu siapa?” Saya bertanya.

“Dokter Ali ini dari Medan, pertama bertugasnya di Puskesmas Kamang, kemudian dipindahkan ke Sungai Puar ini,” katanya menerangkan. “Sungai Puar ini adalah desa meraih juara 1 tingkat nasional, Lomba Kompetensi Walinagari di Bidang Penyelenggaraan Pemerintahan tahun 2010, yang diberikan oleh presiden RI. Lalu dia juga dipindahtugaskan ke sini, karena dia termasuk dokter berprestasi untuk desa berprestasi,” menambahkan keterangannya.

Kami terdiam sejenak, sambil melihat orang lalu lalang ke luar masuk. Hampir seluruh orang dewasa; kakek-kakek dan nenek-nenek, sebelum mengambil nomor antrean menanyakan: “Pak Ali ada bu?”

Advertisements