Cerpen Abdul Hadi (Koran Tempo, 30 Juni – 01 April 2018)

Berburu Kijang ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Berburu Kijang ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

 

Di sudut rawa-rawa gelap berlumpur tempat buaya bersembunyi dan setiap waktu dapat menyerang mangsanya, mereka terpojok: Siman, ayahnya, dan dua pemuda dusun. Mereka saling berdempet membentengi diri.

Dada Siman berdentam seumpama kendang yang dipukul-pukul kala pentas adat. Berjingkat-jingkat menghalau duri, kedua belah kakinya gemetar, doyong tak terperi. Tampias hujan memercik kesana kemari memecahkan fokusnya. Bau daun busuk bercampur kotoran hewan liar menyeruak dilontarkan angin. Sosok buas bertanduk abu-abu kusam di hadapan mereka meraung. Kakinya memekar, siap menerjang. Di belakangnya, anak-anak kijang muda dengan tanduk yang masih lunak menguik. Induknya marah, habitatnya terganggu. Ia merasa bahwa rombongan Siman telah mengancam nyawa anak-anaknya.

Ayah Siman yang paling senior di rombongan tersebut tampak terengah-engah. Wajahnya pias. Tangannya yang liat semakin erat mencengkram tombak. Senapan yang tersampir di bahunya sudah tak lagi berguna. Dua peluru terakhirnya telah lepas menghantam angin akibat gesitnya kijang menghindarkan diri. Sisa mesiu yang ia bawa telah basah karena hujan sehingga tak dapat lagi digunakan. Bajunya yang sobek tersangkut gugusan pohon menampakkan bahunya yang berkilat-kilat disaput keringat. Dalam situasi ini, ia tampak terpuruk dan menyedihkan. Dua pemuda dusun yang turut berburu juga menyedihkan, salah satunya sudah meringis ingin menangis, berkali-kali menyebut nama leluhurnya karena ketakutan. Pemuda satunya lagi mengusap dahinya yang basah oleh peluh, ujung celananya panas karena air kencing.

Samar-samar, geraman kijang itu semakin tajam. Kakinya yang kukuh, mantap menghunjam tanah gambus yang becek karena tetes hujan.

Binatang ini benar-benar marah.

Advertisements