Cerpen Anas S Malo (Media Indonesia, 24 Juni 2018)

Sungai Hendegran ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Sungai Hendegran ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

TAK ada kota di dunia ini yang semenarik kota Khayalan. Kota yang terbelah oleh Sungai Hendregan yang mampu mempertemukan perpaduan keindahan dan nilai filosofis. Sungai ini konon jika seorang yang menceburkan tubuhnya ke sungai, maka hilanglah kesedihannya. Sungai itu menciptakan peradaban. Bangsa-bangsa lahir dari sepanjang aliran sungai itu.

Pesona kecantikan setiap sudut kota mampu menepis cuaca menusuk pada awal musim. Kau mengatakan, jika kota ini pernah mempertemukan gadis dan pria yang menyimpan bara api cinta. Kau juga tahu nama gadis itu. Ya namanya Delina. Kau juga tahu pula nama lelaki yang mencintai gadis itu. Kalau ingatanku tidak berbohong namanya adalah Rush. Lelaki gagah, tampan, pemberani pula, panglima perang di kerajaan pesisir bernama Gundarsi.

Namun demikian kisah kedua sejoli itu, tidaklah sesempurna seperti cintanya yang picisan tingkat tinggi. Waktu itu, kerajaan tengah mengalami pembelotan. Adu domba sering dilakukan oleh satu dua oknum-oknum pejabat yang menyebabkan terjadinya kerusuhan dan kerusakan. Rush tetap membela tanah air dengan segenap darah untuk membela dan melindungi negerinya. Ia tidak terpengaruh dengan segala bentuk hasutan dan ajakan untuk mendukung pemberontakan terhadap kerajaan. Ia adalah lelaki yang teguh pada prinsip. Membela tanah air bagian dari sumpahnya.

Negeri yang indah berangsur-angsur menjadi negeri yang menakutkan. Penuh dengan genangan darah. Penuh dengan jeritan-jeritan kesakitan. Kau tak akan lagi melihat memandang arsitektur bangunan-bangunan yang elok. Yang ada hanyalah puing-puing reruntuhan. Keindahan kota hancur dan keperkasaan benteng Bastion tinggal sejarah. Ledakan demi ledakan beruntun sering terdengar. Suara prajurit beradu pedang menjadi melodi pengantar tidur.

Advertisements