Cerpen Afri Meldam (Padang Ekspres, 24 Juni 2018)

Pukau Kuau ilustrasi Orta - Padang Ekspres
Pukau Kuau ilustrasi Orta/Padang Ekspres

GEROMBOLAN burung sipocah terbang menjauh ketika Sutan dan anjingnya tiba di puncak bukit Simo. Ujung ranting tempat burung-burung berbulu jingga menyala itu hinggap tampak bergoyang dimainkan angin, dan beberapa buah sebesar biji kopi berwarna merah berserakan di jalan setapak yang mereka lewati. Setelah menempuh perjalanan hampir setengah hari melewati hutan belukar di hulu sungai Batang Nganti, mereka memilih berhenti sebentar di sana—ya sebentar saja, sekadar melepas penat dan mengisi perut yang mulai meminta nasi. Memang biasanya para pencari manau, damar atau penggetah burung sering berhenti di puncak bukit berbatu itu.

Sutan mengenal daerah di kawasan bukit terjal itu seperti mengenal jari-jemarinya sendiri. Sewaktu ia seumuran anaknya kini, atau mungkin lebih kecil, Ayahnya sering membawa Sutan menggetah burung ke pinggang bukit ke arah selatan. Dulu, di sekitar situ, banyak sekali pohon kayu penghasil buah yang menjadi persinggahan burung-burung. Di sanalah Sutan pertama kali menembak jatuh seekor burung kaduak berbadan gemuk, yang membuat ayahnya selalu memujinya.

“Kau akan menjadi penembak yang hebat. Asal kau terus berlatih, tentunya.” Kata-kata sang Ayah masih bersipongang di telinganya, hingga kini.

Burung kaduak yang ditembak Sutan datang ke pohon itu dalam kawanan besar. Mereka hinggap di bagian kanopi atas pohon kayu yang tengah berbuah lebat, meloncat dari satu dahan ke dahan yang lain. Sutan sebenarya membidik seekor kaduak yang tengah mematuk buah pohon di bagian yang agak rendah. Mengambil napas panjang, ia kemudian menarik pelatuk senapan. Peluru yang dimuntahkan Sutan meleset, namun tanpa diduga mengenai seekor kaduak lain di atas pohon. Mengaok keras, burung malang itu kemudian jatuh terpelanting di rerimbunan semak rasam tak jauh dari tempat Sutan dan ayahnya berdiri.

Advertisements