Cerpen Kartika Catur Pelita (Suara Merdeka, 24 Juni 2018)

Pecel ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka.jpg
Pecel ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Hampir saban hari suaminya makan pecel. Tiada hari tanpa makan pecel. Suaminya sangat suka makan pecel. Konon, karena sejak kecil ia tinggal di desa bersama ibunya yang berjualan pecel demi menghidupi kedelapan anaknya.

Suaminya anak ragil. Berkat ketekunan, kerja keras, ia meniti karier militer berpangkat kolonel. Ia bangga atas keberadaan suaminya yang berpangkat tinggi, tapi tetap rendah hati. Tak suka membeda-bedakan teman. Tak suka pilih-pilih makanan. Sejak dulu hingga hari ini masih suka pecel.

Demi rasa cinta, yang konon dari mata turun ke makanan, ia suka masak pecel. Namun entah, pecel bikinannya sepertinya tak enak. Walau suaminya tidak pernah komplain, ia tak percaya diri bahwa pecel racikannya enak.

Demi suaminya, ia berkelana mencari pecel paling enak. Ia selalu mencari informasi di mana ada warung yang menjual pecel enak. Ia kemudian menyambangi; selain membeli, ia belajar mengenai resep mengapa pecel itu berasa enak.

“Sayuran harus segar. Sayuran direbus sebentar, tambahkan sepercik garam, supaya sayuran tetap hijau dan rasanya kres-kres-kres.”

“Begitu ya.”

“Rahasia kecil tapi banyak orang yang meremehkan.”

“Bumbu kacangnya gimana?”

“Bumbu kacangnya harus segar juga.”

“Maksudnya?”

“Goreng kacang tanah dan simpan dalam wadah kedap udara supaya tetap renyah. Kemudian saat ada pembeli baru deh kita ulekkan bumbunya.”

“Apa tak capek?”

“Justru rahasia rasa enaknya pecel di situ. Kacang hasil ulekan beda dari kacang blenderan. Teksturnya tak lebih lembut dan rasanya lebih gurih.”

Advertisements