Cerpen Isbedy Stiawan ZS (Lampung Post, 24 Juni 2018)

Mudik ini, Ah, Jangan Terulang ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post
Mudik ini, Ah, Jangan Terulang ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

“Oke oke, baik. Kalau kau tak mau mudik ke ibuku, aku bisa sama Adel!” kata istriku. Suaranya meninggi. Tentu itu adalah ancaman.

Sebetulnya, tahun ini kami sudah sepakat tak mudik. Sebab, sudah dua tahun berturut-turut berlebaran di kampung istriku. Mudik ke orang tuaku dilakukan empat tahun lalu.

Awal kami baru membentuk rumah tangga, dengan niat saling percaya dan saling menjaga hal-hal yang mungkin dianggap paling pribadi, kami bersepakat mudik dilaksanakan berganti-ganti dan diselingi tak mudik sekali. Jika tak mudik itu kami manfaatkan silaturahmi ke kerabat yang bukan perantau. Memang sunyi karena kami tinggal di kota berpenghuni urban.

Tetapi belakangan ini, istriku mendominasi mudik agar kami ke kampung kelahirannya. Adel, yang kini berusia 17 tahun kerap protes. “Bunda itu egois! Gak mau ngalah. Adel juga bosen lo ke rumah nenek,” ujar anakku semata wayang sambil merajuk.

“Lalu mau Adel?”

“Ya, gantianlah ke rumah Oma. Aku juga kan kangen, oma juga. Lagian kotanya asyik…” jawab anakku.

Istriku punya prinsip: sekali memilih tak akan berubah. Itu juga berlaku baginya di dunia politik. Kalau kata dia golput, biarpun ada yang mau bayar agar memberi suaranya tidak akan dilakukan. Namun, misal pada pilgub kali ini, ia sudah menyatakan pilihannya pada petahana, meski tak dikasih amplop tetap pilihannya. Hati nurani tak boleh dilelang.

Lalu, yang tak kusuka, keteguhan hatinya itu terkadang ke hal-hal yang cenderung memupuknya menjadi egois. Salah saja dia tetap benar, apalagi ia yakin kalau dia benar semakin di atas awan.

“Kita sudah 3 lebaran ke rumah ibu, tahun ini kita absen. Selain menghemat ya karena kesepakatan kita…” ujarku lembut.

Advertisements