Cerpen Budi Darma (Kompas, 24 Juni 2018)

Lorong Gelap ilustrasi Yumma Loranita Theo - Kompas.jpg
Lorong Gelap ilustrasi Yumma Loranita Theo/Kompas

Jumlah sel terpidana mati terbatas, hanya tiga belas, di ujung lorong gelap yang memisahkan penjara terpidana biasa dan terpidana mati. Begitu seorang terpidana mati siap untuk dieksekusi, seorang terpidana mati yang masih tinggal di penjara biasa diseret ke lorong gelap. diserahkan kepada kelompok sipir khusus.

Jam sebelas malam sel Den Hardo digedor-gedor, tanda bahwa dia harus segera diseret ke lorong gelap, menggantikan terpidana mati yang siap akan dieksekusi.

Beberapa sipir menyambut kedatangan Den Hardo, mengikat tubuh Den Hardo dengan kuat dan menyumpal mulut Den Hardo untuk menghadapi upacara awal: cap stigma. Sebatang besi menyala dilekatkan ke dada bagian depan, dada bagian belakang, kedua tangan, serta di leher dan tengkuk. Desis dan bau daging terbakar menyusup ke semua bagian lorong gelap, dan Den Hardo tidak mungkin berteriak dan berkelejatan menahan rasa sakit karena mulutnya telah disumpal dan tubuhnya telah diikat kuat-kuat dengan tali khusus.

Lalu, dengan cara serampangan. seorang sipir yang wajahnya mirip hantu mengatakan, terpidana mati mempunyai hak untuk menentukan cara hukuman sesuai pilihannya sendiri. Hukum gantung boleh, tembak tidak apa-apa, potong leher juga silakan. Tapi yang paling enak dipandang adalah eksekusi dengan listrik tegangan tinggi. Setelah tombol dipencet, tubuh terpidana mati berubah menjadi terang benderang, lalu dari ujung kepalanya muncullah cahaya indah, tanda bahwa nyawa telah melesat meninggalkan tubuh yang gosong.

Den Hardo kemudian dilempar ke sel dan diberi bekal satu kaleng besar kacang keras. Penjelasannya, di area eksekusi banyak tupai yang suka masuk ke sel tanpa maksud mengganggu, hanya minta diberi makan. Semua tupai itu jinak, dan suka diajak bermain-main. Tapi awas, kacang jangan dimakan sendiri, dan kalau dilanggar, hukumannya berat.

Melalui jendela Den Hardo melihat sebuah lapangan dikelilingi tembok yang dilindungi oleh kawat berduri berpijar-pijar karena ada muatan listriknya. Eksekusi selalu dilakukan antara jam satu dan tiga dini hari, di bawah pohon jejawi tua, dan semua alat eksekusi tersedia di sebuah gudang bercat putih.

Advertisements