Cerpen Manaf Maulana (Pikiran Rakyat, 24 Juni 2018)

Tarian Rindu ilustrasi Andi Gita Lesmana - Pikiran Rakyat.jpg
Tarian Rindu ilustrasi Andi Gita Lesmana/Pikiran Rakyat

DI usianya yang sudah uzur, sudah lebih dari 70 tahun, Pak Madi merasa gembira, karena putra semata wayangnya kini menjadi pejabat di pusat. Pada awal Ramadan ini, putranya kembali melakukan ibadah umrah di Tanah Suci. Lewat telefon, putranya minta doa restu dan bertanya, “Bapak mau saya bawakan oleh-oleh apa?”

PAK Madi langsung menjawab tegas. “Bawakan saja kurma dari Madinah!”

“Hanya itu, Pak?” tanya putranya lagi.

“Ya, hanya kurma dari Madinah. Terserah berapa kilo.”

Putranya tertawa. “Satu kuintal apa cukup, Pak?”

Pak Madi juga tertawa. “Kalau kamu tidak keberatan, satu ton juga boleh.”

***

PAK Madi ingin menjalani sisa puasa Ramadan ini dengan berbuka puasa dengan kurma dari Madinah. Betapa nikmatnya mengunyah kurma dari Madinah sambil membayangkan Rasulullah yang sedang berbuka puasa. Menurut sebuah riwayat, dulu Rasulullah selalu berbuka puasa dengan menyantap tiga butir kurma. Dan karena Rasulullah tinggal di Kota Madinah, tentu kurmanya juga dari Madinah.

Dalam batin Pak Madi, puasa Ramadan tahun ini mungkin yang terakhir baginya. Ajalnya terasa semakin dekat saja. Entah kapan tapi pasti ajal itu akan datang. Semua teman sebayanya sudah wafat. Dan di desanya Pak Madi adalah warga paling tua.

Dan di usianya yang sudah uzur ini, Pak Madi tinggal bersama istrinya. Selama ini, Pak Madi sering bersitegang dengan istrinya dalam memilih gaya hidup. Pak Madi lebih suka hidup sederhana, sedangkan istrinya lebih suka bermewah-mewah.

“Kita hidup di desa. Yang sederhana saja.” Kalimat ini sering diucapkan Pak Madi setiap kali melihat istrinya bersikap wah.

“Sederhana bukan berarti tidak mewah, Pak. Bagi yang mampu, kemewahan bisa dianggap sederhana,” ujar istrinya.

Advertisements