Cerpen Dadang Ari Murtono (Republika, 24 Juni 2018)

Kemelun Asap ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Kemelun Asap ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Menjelang Maghrib, orang-orang yang marah itu menyiramkan bensin ke tubuhnya. Batok kepalanya yang retak terasa perih. Bensin membawa sebagian darah yang merembes dari retakan itu. Pandangannya tak lagi jelas. Ia berusaha menyeka matanya. Namun, ia gagal menggerakkan tangan kanannya.

Seseorang di antara kerumunan orang yang marah itu, ia tak tahu lagi yang mana persisnya, beberapa menit sebelumnya menghantamkan sepotong paving ke lengannya. Ia menjerit seraya memohon ampun.

Suaranya terbang ke langit tinggi. Sebelum sampai ke langit, angin telah lebih dulu menyaput suara itu. Sebelum mulutnya terkatup, seseorang lain, yang ia juga tak tahu lagi yang mana, menginjak tulang kering kaki kirinya. Terdengar derak tulang patah yang segera tenggelam dalam amuk orang ramai. Ia kembali menjerit. Sebuah jeritan yang menyayat, namun sia-sia belaka.

Orang-orang, alih-alih berhenti menimpakan penderitaan kepadanya, justru bertambah buas. Ia mendengar semacam perintah. Nyaring dan tajam menembus bunyi keributan. “Potong dulu kemaluannya!” Suara seorang perempuan.

Ia tak sempat bergidik ngeri men dengar perintah itu. Sepotong tangan yang kekar dan berotot telah lebih dulu meraih rambutnya, lantas menjambak dan menyeretnya. Orang-orang bersorak. Mereka orang-orang yang marah. Kemarahan yang, ajaibnya, membuat mereka tak ubahnya segerombolan anak yang tengah girang belaka lantaran menemukan sebuah mainan yang bisa mereka perlakukan semau mereka.

Ia kembali memohon ampun. Seseorang yang lain menyumpalkan sepatu ke dalam mulutnya yang terbuka. Napasnya tersengal dan suaranya tertelan kembali ke dalam tenggorokan. Orang yang menyeretnya berhenti setelah beberapa meter. Lantas membanting kepalanya ke aspal yang terasa panas meski senja semakin berat.

Ia merasa pandangannya gelap seketika. Lantas ribuan kunang-kunang berterbangan di sekitarnya. Ia tahu itu halusinasi belaka. Dulu, dulu sekali, sewaktu ia masih bocah, setelah ia membolos mengaji, bapaknya pernah menghadiahinya sejumlah bogem mentah di pelipis pipi kirinya, dan ia melihat kunang-kunang yang serupa.

***

Advertisements