Cerpen Venny Mandasari (Analisa, 24 Juni 2018)

Gadis Tua dan Musuknya ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Gadis Tua dan Musuknya ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

DINAR tinggal berdua bersama ibunya yang lumpuh. Mereka baru beberapa minggu pindah ke rumah kontrakan tersebut. Perumahan papan yang terdiri dari satu kamar. Setiap pagi setelah salat subuh dia memandikan ibunya. Memberinya sarapan, membereskan rumah, menyapu halaman, berbelanja ke warung Bu Ani di belakang rumah.

Siangnya sehabis zuhur Dinar ke ladang, membersihkan rumput-rumput di antara pohon ubi dan jahe merah yang dia tanam. Berharap kelak jika panen hasilnya memuaskan. Tak mungkin cuma berharap pada uang pensiunan ayahnya yang sebagai guru. Hanya seberapa karena dipotong hutang pada bank yang uangnya semua untuk adik laki-lakinya.

Adiknya yang jahat, selalu menghabiskan harta orangtuanya. Saking emosionalnya Dinar menceritakan kejelekan adiknya pada setiap tetangga. Barang-barang di rumah orangtuanya sedikit demi sedikit dijual untuk makan anak istri adiknya. Tak mau bekerja. Pemalas! Semua rutukan terucap dari bibir Dinar untuk adiknya setiap kali dia bercerita. Para tetangga barunya simpati padanya. Seorang anak saleha yang berusaha menyelamatkan ibunya dari penyakit yang menyebabkan kematian.

“Sudahlah, Mak. Tak usah lagi Mamak pikirkan si jahat itu. Di sini kita tenang walau cuma kontrakan reok. Pikirkan saja kesehatan Mamak,” kata Dinar mengingatkan mamaknya setiap kali dilihatnya orangtua itu melamun.

Mereka kabur dari rumah besar mereka yang ditempati adiknya. Pindah malam dengan becak mesin, membawa beberapa barang yang memang dibutuhkan. Adiknya tidak tahu kemana mereka pindah. Sempat diasingkannya sepeda motor butut peninggalan ayahnya di rumah tetangga. Itulah kendaraannya ke mana-mana. Terutama pulang pergi ke ladang setiap hari.

Kasihan Dinar, usianya sudah 38 tahun, tapi belum menikah. Dia perempuan rajin, berbakti pada orangtua. Seorang tetangga bahkan berniat ingin menjodohkannya pada seseorang.

***

Advertisements