Cerpen Yudhi Herwibowo (Koran Tempo, 23-24 Juni 2018)

Kasus ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo
Kasus ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Hari ini, Kristal ditemukan tewas dengan 99 tusukan di tubuhnya. Saat ditemukan polisi, matanya masih terbuka menatap langit-langit, seakan ingin menunjukkan kalau jiwanya melayang meninggalkan rasa sakit yang belum selesai. Sementara darahnya masih terus menetes dari kasur, dan membuat genangan berbentuk hati di lantai yang sedikit cekung.

Kapten Arindo dan rekannya—Sersan Birro—hanya bisa berdiri memandangi tubuh Kristal dengan perasaan jengah. Sepanjang karier mereka menjadi penyelidik, tak pernah mereka menghadapi jenazah semengerikan ini sebelumnya.

Kapten Arindo mencoba membuang pandangannya ke sekitar ruangan. Kamar ini ada di salah satu sudut rumah yang dijadikan semacam losmen ecek-ecek oleh pemiliknya. Letaknya memang sedikit terpisah dengan rumah-rumah yang lain. Berdasarkan pengamatan, hanya ada 7 kamar di sini. Enam kamar yang disewakan, seperti terpisah dari rumah utama. Keenamnya berhadap-hadapan, dipisahkan tanah kosong yang dijadikan tempat untuk menjemur pakaian. Satu kamar tersisa dipakai sebagai gudang. Rumah utama ditinggali pemiliknya, yang sekaligus menjadi pengurus losmen. Sebenarnya walau disebut rumah utama, luasnya hanya sedikit lebih besar dari kamar lainnya.

“Pagar terkunci, kupikir pembunuhnya hanya orang yang ada di losmen ini,” ujar Kapten Arindo seperti bergumam.

Sersan Birro hanya mengangguk, “Ya, tak mungkin yang lain.”

Tante Andini

Perempuan 50 tahun ini merupakan pemilik losmen. Tak banyak yang tahu kalau dulu ia adalah seorang pelacur. Dapat dikatakan, ialah yang merintis bisnis esek-esek di jalanan ini. Ia cantik, dan juga bukan seorang pemilih, sehingga mau bercinta dengan siapa saja, termasuk aki-aki bau tanah. Tak heran, namanya pun menjadi primadona di sini.

Menurut catatan di kepolisian, Tante Andini pernah sekali dipenjara. Ia mengelem penis pelanggannya dengan lem tikus.

“Apa yang membuat Tante melakukan itu?” tanya Sersan Birro, tampak ingin tahu.

Advertisements