Cerpen Dadang Ari Murtono (Radar Surabaya, 17 Juni 2018)

Sindrom Kucing Jantan ilustrasi Radar Surabaya
Sindrom Kucing Jantan ilustrasi Radar Surabaya

Ayah pulang setelah pergi selama enam belas tahun. Ibu menyambutnya di halaman dengan muka masam. Ayah terlihat lelah; wajahnya berminyak, rambutnya lepek dan bajunya kusut. Namun, ibu jelas-jelas lebih lelah; kantung matanya segelap malam dan selebar piring gelas. Aku waktu itu berada di belakang, sedang sibuk menyelamatkan seekor anak kucing yang barusan diserang oleh induk jantannya. Anak kucing itu masih berumur enam hari dan ada luka menganga di lambungnya yang imut. Ia tidak lahir sendirian. Ada dua saudaranya yang lebih tua sembilan dan dua puluh dua menit darinya dan telah jadi mendiang beberapa saat sebelumnya. Mereka bertiga jantan dan tampan. Tentu saja wujud kucing yang baru lahir sama menjijikkannya, karena bulu-bulu tipis dan lumuran lendir di sekujur tubuhnya. Namun, beberapa detik setelah induk betinanya menjilati lendir tersebut sekaligus memotong tali pusar mereka menggunakan gigi-giginya yang tajam, maka ketampanan itu segera terlihat. Memancar serupa cahaya fajar. Ketiga anak kucing tersebut, sesaat setelah dilahirkan, mendesis-desis pelan, lalu merangsek mencari puting susu induk betinanya. Mata mereka masih terpejam hingga mereka terlihat kesulitan menemukan sumber air kehidupan tersebut. Sebelumnya, ibu telah menyuruhku menyiapkan kotak kardus bekas mi instan dengan sejumlah potongan kain yang ditaruh di dalamnya. Sebagai tempat kelahiran kucing-kucing lucu itu.

“Bila mereka jantan, maka induk jantannya tak akan berhenti hingga ia berhasil memakan mereka,” kata ibu beberapa waktu sebelumnya.

Ibu memang penggemar kucing. Namun, aku tidak. Karena itulah ibu mengerti kebiasaan kucing dan aku sebaliknya. Aku menuruti perintah ibu karena aku menghormati dan menyayangi perempuan yang melahirkanku dan merawatku dengan baik, sementara ayah pergi entah ke mana selama enam belas tahun. Aku hampir melupakan wajah ayah hingga ia pulang dalam keadaannya yang lusuh. Seolah ia baru terlibat peristiwa yang mengerikan. Ingatanku tentang ayah adalah seorang lelaki yang temperamen. Ia suka memukulku tanpa alasan. Dan aku mengira, ia melakukannya karena ia memang ingin melakukannya. Tak ada alasan lain. Dan ibu, sepanjang itu, selalu melindungiku. Ibu, dalam beberapa hal, seperti induk betina kucing. Dan ayah, tentu saja induk jantan kucing. Aku beruntung ibu cukup tangguh melindungiku, hingga nasibku tidak seperti dua anak kucing lainnya, yang riwayatnya telah berakhir dalam lambung induk jantannya sendiri. Karena sang induk betina meringkuk ketakutan, setelah mukanya dicakar oleh penjantan yang beberapa bulan sebelumnya menunggangi dan menumpahkan benih ke dalam rahimnya. Kasih sayang ibu, pada akhirnya, membuat aku membenci ayah. Aku tidak rela mesti berbagi kasih sayang ibu dengan lelaki yang membenciku tersebut. Aku menginginkan ibu untuk diriku sendiri. Oleh karena itu, aku benar-benar bersyukur ketika pada suatu pagi ayah pergi dan tak kunjung kembali hingga enam belas tahun. Hingga hari ini. Hingga aku sudah cukup kuat untuk membela diri sendiri.

“Kau tahu kenapa kucing jantan membunuh anak mereka yang berjenis kelamin jantan?” tanya ibu beberapa waktu lalu, ketika ia menyuruhku menjaga baik-baik tiga anak kucing di belakang. Aku menggeleng. “Sebab induk jantannya takut bila anak-anaknya dewasa kelak, anak-anak tersebut akan merebut posisinya sebagai penjantan dominan dan mengawini ibu mereka sendiri,” ibu menjelaskan.

Aku sudah berupaya sebaik-baiknya menjaga ketiga anak kucing tersebut. Namun, selalu ada saat nahas bagi semua makhluk. Aku sedang pergi ke kamar mandi untuk melegakan perut, sewaktu kucing jantan itu datang. Lalu menyerang si betina, dan memangsa dua bayi kucingnya, darah dagingnya sendiri. Si kucing betina terus mengeong-ngeong selama waktu itu, seolah meminta bala bantuan. Kucing jantan mengeong tak kalah kerasnya. Seakan menyuruh si betina untuk menutup mulut. Aku mendengar ribut-ribut tersebut. Lalu bergegas ke belakang dengan sebatang tongkat yang sudah kusiapkan sebelumnya, dan hanya berhasil menyelematkan seekor anak kucing. Itu pun dalam keadaan sudah terluka. Bila aku terlambat beberapa detik saja, niscaya ketiga bayi kucing itu akan tinggal kenangan. Kucing ragil itu, sewaktu aku tiba, napasnya sudah tersengal. Kecil kemungkinan ia akan tetap bertahan hidup ketika hari berakhir nanti. Namun itu bukan berarti mustahil menyelamatkannya. Si kucing jantan segera berlari begitu mengetahui kedatanganku. Aku menyesali kecerobohanku. Seharusnya aku tidak berteriak ketika melihat adegan pembantaian tersebut. Melainkan langsung menghantam kepala kucing jantan terkutuk itu. Kucing jantan itu berlari ke sisi kiri dan aku mengabaikannya selama beberapa waktu untuk menangani si kucing bungsu. Setelah membebat luka di lambung kucing kecil itu dengan sobekan kaos yang aku pakai, aku memulai perburuan terhadap si kucing jantan. Sewaktu aku membebat luka kucing kecil itulah ayah tiba dan ibu menyambutnya di depan rumah.

Sebelum mempersilakan ayah memasuki rumah, ibu bertanya ke mana saja ayah pergi selama ini. “Memburu ayahku sendiri,” kata ayah santai. Lantas, ia merogoh tas pinggang yang terbuat dari kulit berwarna hitam yang selalu ia bawa ke mana-mana. Dari sana, ia mengeluarkan sebongkah jantung yang masih mengucurkan darah. “Ini jantung ayahku,” tambahnya. Jantung itu tampak masih berdenyut, seolah belum lama dicongkel dari kedalaman dada tempatnya bernaung. Atau mungkin di dalam tas pinggang ayah itu terdapat sebuah alat yang membuat jantung tersebut tetap segar, tetap bekerja, sekali pun telah terpisah dari organ lainnya.

Ibu menanggapinya dengan dingin. Beliau tidak tampak terkejut atau takut atau jijik, seolah jantung yang masih berdarah dan berdenyut itu adalah sebongkah tempe atau tahu belaka. “Kenapa bisa selama itu bila hanya untuk menangani satu orang tua?” tanyanya, masih dengan sikap dingin yang purba.

Ayah mendesah. Lalu menelan ludah banyak-banyak, seolah-olah berusaha menelan kekecewaan. “Ia tidak seperti yang kubayangkan,” katanya.

“Apa ia kuat?”

“Tidak. Ia sama sekali tidak kuat. Ia pengecut. Ia bertingkah seperti semua orang tua. Kau tahu maksudku. Awalnya ia menyambutku seolah-olah ia mengharapkanku. Namun, aku tahu itu semata siasatnya. Setiap ayah selalu menganggap anak laki-lakinya sebagai ancaman. Semua sudah paham itu dan lebih paham lagi semenjak Sangkuriang mengorek jantung ayahnya dan memakannya. Tidak ada satu pun orang yang ingin jantungnya dikorek dan dimakan. Tidak juga ayahku.”

“Jangan berbelit-belit. Aku tidak punya waktu seharian untuk berdiri di sini dan mendengar ocehanmu. Seluruh waktuku telah habis untuk menunggumu.”

“Kau seharusnya menyuruhku masuk.”

“Tidak. Kau akan masuk ke dalam rumah. Tapi, nanti kau akan keluar lagi. Dan kau tidak akan kembali.”

“Apa maksudmu?”

“Ceritakan saja kenapa kau bisa pergi selama ini.”

Ayah melempar jantung ayahnya—kakekku—yang masih terlihat segar itu ke tanah, dekat sekali dengan kaki ibu. Ibu hanya meringis sedikit. Dengan kakinya, ibu menggeser jantung tersebut. Semata agar beliau bisa menggurat-gurat tanah dengan jari-jari kakinya, seperti kebiasaan ibu ketika berbicara dengan orang lain.

“Baiklah. Ayah menyambutku, seperti yang sudah kukatakan. Ia berkata merindukanku dan ingin memelukku. Namun, aku tahu. Di balik bajunya, ia telah menyiapkan sebilah belati. Ia akan menikamku begitu aku memeluknya. Aku waspada. Aku menolak memeluknya. Dan ia, yang menyadari bahwa rencana pertamanya gagal, segera melancarkan strategi kedua yang pastinya telah ia siapkan matang-matang. Ia menakut-nakutiku dengan menceritakan kejayaan-kejayaan masa lalunya. Huh, benar-benar khas orang tua. Ia mengatakan betapa ia dulu pernah berperang dengan sekawanan jin, dan berhasil mengalahkan mereka semua hanya dalam waktu tiga jam. Ia juga mengatakan bahwa ia pernah memindahkan sebongkah gunung menggunakan sebatang kayu singkong. Ia menyingsingkan lengan bajunya dan menunjukkan luka-luka yang ia dapatkan dari semua pertarungan masa lalunya. Itu memperkuat kecurigaanku bahwa ia menyembunyikan belati di balik bajunya. Karena itu, alih-alih membuka baju, ia justru menyingsingkan lengan baju.”

“Kau takut dengan cerita-ceritanya?”

“Tolol! Tentu saja tidak. Aku segera menerkamnya dengan satu gerakan yang tidak ia antisipasi sebelumnya sebelum ceritanya berakhir. Ia terjengkang. Aku menindihnya. Dan ketika aku berusaha mengambil belati dari balik bajuku, ia menendang punggungku. Aku terkejut mendapati kakinya bisa bergerak sedemikian rupa. Seolah-olah kaki itu terbuat dari karet yang lentur dan bisa memanjang. Aku tersungkur ke depan dan ia lepas dari pitinganku. Ia kabur. Lantas aku memburunya.”

“Memburunya hingga bertahun-tahun? Cuih, katakan saja kalau kau bertemu seorang perempuan dan hidup bersamanya. Lantas kini, perempuan itu, kalau tidak mampus ya meninggalkanmu, dan kau ingin kembali kepadaku! Dasar lelaki!” ibu meludah ke sisi kiri.

“Aku memburunya bertahun-tahun. Ia kabur seperti angin. Andai saja kau tahu. Aku memburunya melewati hutan belantara, menyeberangi samudra, melintasi tiga benua, menyelam ke danau-danau terdalam, memasuki jurang-jurang tercuram. Selama itu, aku telah bertemu dengan aneka makhluk aneh. Naga, garuda, kera raksasa, pangeran yang istrinya dicuri, gunung yang tumbuh dari sebutir biji salak. Dan hal-hal lain yang kukira hanya ada dalam dunia dongeng. Mereka tertawa-tawa melihat aku memburu ayah. Itu memang yang harus kau lakukan, kata mereka seraya berjingkrak-jingkrak. Mereka seolah memberiku dukungan. Namun mereka membisu sewaktu aku bertanya apakah mereka melihat ke arah mana ayah lari. Tapi aku tidak menyerah. Kau tahu aku orang seperti apa, bukan? Dan akhirnya aku menemukan ayah di sebuah kebun buah dengan napas ngos-ngosan. Tepat di bawah pohon kuldi, aku meringkusnya. Ia kelelahan dan tak berdaya melawanku. Ia menatapku dengan pandangan memelas. Ia memohon agar aku melepaskannya. Ia menawarkan perdamaian. Tapi, bagaimana mungkin seorang anak laki-laki bisa berdamai dengan bapaknya? Apa kata dunia? Uh, orang yang hendak mampus memang menghalalkan segala cara. Ia jadi licik dan pandai berakting. Tapi aku tidak akan tertipu. Aku mendekatinya dengan belati terhunus. Ia berupaya bangkit, namun kaki-kakinya terlalu lemah. Ia kemudian menghunus belatinya dan menudingkannya ke arahku. Namun hanya dengan satu tendangan ke pergelangan tangannya, aku berhasil menyingkirkan belati itu. Lalu aku mencungkil jantungnya dan menenggak darah yang mengucur dari luka di dadanya. Setelah itu, aku kembali ke sini.”

Ibu masih menggurat-gurat tanah dengan jempol kaki kanannya sewaktu ayah mengakhiri cerita petualangannya. Tepat pada waktu itulah, kucing jantan yang telah memangsa dua dari tiga anaknya sampai ke halaman rumah dan berlari di antara ayah dan ibu. Kucing itu sebelumnya telah memaksaku berputar-putar di kebun belakang, dan memanjat sebatang pohon kersen setinggi empat setengah meter. Aku mengejar kucing itu dengan kayu pentungan di tangan kanan dan amarah yang menggelegak dan hasrat membunuh yang tak terkira. Kucing itu mengeong dan menyelinap di antara dua kaki ayah. Lalu duduk mendekam di situ, seolah telah menemukan tempat berlindung yang aman.

Aku tunggu beberapa detik sewaktu mendapati lelaki yang berdiri di depanku itu, seolah tengah berhadapan dengan mimpi buruk. Pandangan mata kami—aku dan ayah—bersirobok. Ia menatapku tajam. Aku menatapnya tak kalah tajam. Kucing jantan yang kini bergelung di antara dua kaki ayah juga menatapku tajam. Dan tiba-tiba, aku merasa bahwa pandangan mereka berdua sama belaka.

Ibu menghela napas panjang. Lalu berkata pelan, “Kau bahkan belum sempat masuk ke dalam rumah. Dan kini, semua akan terjadi. Kau akan berlari dan anak lelakimu akan memburumu.”

Ibu memutar tubuh, lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. (*)

 

Dadang Ari Murtono lahir dan menetap di Mojokerto, aktif di Kelompok Suka Jalan.

Advertisements