Cerpen Nurilla (Banjarmasin Post, 10 Juni 2018)

Simbol Pernikahan ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group
Simbol Pernikahan ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

“Bangunkan pohon-pohon itu, Har!” seru Wak Dar berjingkat. Padahal aku baru selesai menata puluhan kelapa. Tujuh hari lagi, Sani akan menikah.

Aku tak tahu, sejak kapan tradisi membangunkan pohon yang terdengar menggelitik ini dilakukan. Yang kutahu, para orang tua akan marah mendapati anaknya yang hanya diam mematung menikmati bulan purnama. Mereka akan mengamuk. Jika anak-anaknya tak pergi memukul pohon yang satu ke pohon yang lain.

“Bangun. Bangun. Bulan ghering sudah datang!” ucap Herman di depanku sambil memukul-mukul pohon. Persis membangunkan orang yang tertidur lelap.

Bagi kampungku, bulan ghering yang sepatutnya disebut bulan purnama, dianggap sakral dan menakutkan. Tak boleh sembarang berucap dan bertingkah. Sebab saat bulan memerah, emosi manusia tak terkontrol. Persis gelombang laut yang ikut pasang. Dan sepertinya, anggapan ini benar-benar terwujud di sosok Wak Dar yang sedari tadi mengawasi kami—anak-anak yang baru beranjak remaja agar terus memukul pepohonan sambil keliling kampung.

“Bangun! Bangun! Bulan ghering sudah datang!”

“Tak usah bangun! Tak usah bangun! Bulan ghering hanya sebentar.”

“Kenapa tak dibangunkan? Nanti kau dimarahi Wak Dar,” seru Herman dengan alis menyatu.

“Tak apa. Biarkan dia tidur. Pohonnya lagi sakit.”

Herman menatapku lekat. Lalu pergi mengadu ke Wak Dar. Dasar. Bisa-bisanya dia cerita pada orang tua itu. Padahal Herman lelaki. Tak pantas bermulut lebih dari satu. Benar saja, Wak Dar datang dengan muka beringas. Sedang Herman tersenyum menang di belakangnya.

“Kau mau kuhukum? Bisa-bisanya kau menyuruh tidur pohon-pohon ini. Kau mau kita dapat bala?”

“Pohon ini lagi sakit, Wak. Kalau Wak Dar tak percaya, coba lihat daun-daunnya yang dimakan ulat,” ucapku memberanikan diri.

“Kau kira aku percaya kata-katamu? Kau kira kamu siapa bisa mengatakan pohon ini saklt? Kalau mau bohong, carilah alasan yang masuk akal!”

“Bangunkan pohon juga tak masuk akal, Wak.”

“Ehar! Benar-benar kau tumbuh menjadi anak bebal. Ibumu pasti menangis melihatmu nakal seperti ini. Sekarang, kau ambil air! Isi sampai penuh kamar mandi itu!”

Sungguh, aku ingin melawan Wak Dar. Bisa-bisanya dia membawa ibuku yang sudah tenang di alam sana. Menyebut ibuku menangis pula. Padahal aku anaknya. Aku yang selalu berdoa agar ibu selalu bahagia di sana.

Ah, tak apa. Biarkan saja Wak Dar menghukumku begini. Lebih baik aku mengangkut air daripada ikut membangunkan pohon-pohon. Kupastikan sebentar lagi, anak-anak tadi akan berdandan dan menari di bawah temaram bulan purnama. Memang seperti itu. Usai membangunkan pohon, mereka akan mencuci muka dan berdandan. Bagi anak perempuan, akan memakai bedak tebal disertai lipstik milik ibunya, lalu memakai wewangian. Sedang anak lelaki, cukup cuci muka dan memakai wewangian. Lalu mereka akan menari sambil tertawa-tawa.

***

“Pernikahan Sani sudah besok malam. Kenapa Jengghu’ masih belum makan sesajen kita,” tanya Asnawi.

Wak Dar hanya manggut-manggut. Mimik mukanya serius.

“Mungkin makanannya kurang, Wak,” seru Sidin lantang. Semua lelaki yang berada di samping surau menoleh. Sedang aku, mengintip dari kamar mandi di surau.

“Coba jelaskan, Din,” pinta Wak Dar.

“Begini, Wak. Bisa jadi Jengghu’ itu maunya kopi manis, sedangkan kita hanya menyajikan segelas kopi pahit, sepiring nasi dan semangkok kuah rawon. Bisa jadi dia tak minum kopi. Mungkin teh atau mungkin air. Atau, bisa jadi pula dia tak suka rawon. Jadi kita kasih juga lelur, atau kita buatkan pecel. Kesimpulannya, alangkah baiknya makanan dan minuman itu harus beraneka macam. Buat jaga-jaga.”

Semua lelaki itu manggut-manggut mendengar penuturan Sidin. Termasuk Wak Dar yang mulai tersenyum lebar. Tokoh yang dituakan itu langsung memanggil Miryah si Juru dapur, untuk memastikan usulan Sidin barusan. Besok malam adalah puncak pesta pernikahan dan apabila Jengghu’ belum menyentuh sesajen, itu artinya para leluhur tak merestui pernikahan Sani.

“Kasihan Sani. Mungkin karena dia perawan tua. Jadi Jengghu’ tak mau makan,” ucap Miryah di samping dapur.

“Ya, kau benar. Salahnya siapa dia tak mau menikah sejak dulu. Sekarang, leluhur kita marah,” timpal Som.

“Mungkin dia tak mau menikmati malam pertama kali,” ujar Nanik mengundang tawa yang lain.

Benar-benar mulut para ibu-ibu ini ingln kutambal. Bisa-bisanya dia membicarakan Sani padahal mereka tahu, tanpa perempuan itu, kampung kita tak akan punya pelayanan kesehatan. Dia yang berjuang mati-matian agar dokter Hasyim mau berdinas di kampung setelah sebelum-sebelumnya diusir Wak Dar dan orang-orang.

Aku tak paham mengapa mereka membenci dokter. Padahal, kalau bukan karena penanganan dokter itu, mungkin anak-anak kecil banyak yang mati lantaran perut buncit. Sebab mereka hanya menyangka sebagai kutukan leluhur dan hanya disembur oleh Wak Buto di puncak bukit.

Mendengar penuturan ibu-ibu itu, aku penasaran dengan Sani. Aku ingin memastikan apakah dia sudah mendengar isu ini atau bukan. Dan benar saja, baru aku sampai di depan pintu kamar, aku sudah melihat wajah yang sedikit lusuh. Padahal seharusnya dia gembira menyambut pernikahan ini. Padahal juga, dia harus senang sebab menikah dengan pilihan yang tepat. Siapa lagi kalau bukan dokter Hasyim.

“Har, kenapa kau berdiri di situ?”

Aku hanya tersenyum, sambil meminta izin masuk kamarnya. Ah, barangkali kamar pengantin harus wangi. Aroma bunga melati benar-benar kuat. Sani juga berdandan cantik dengan mengenakan pakaian serba putih.

“Tak usah sedih. Nanti Jengghu’ pasti makan sesajen itu.”

Sani tertawa mendengar penuturanku. Sayangnya, justru Wak Dar berdecak pinggang di luar pintu. Kalau begini, lebih baik aku pergi saja. Daripada disuruh mengangkut air lagi mengisi kamar mandi di surau.

“Ibu yang mengabariku semalam,” ucapku berbisik di telinga Sani, lalu aku berlari ke luar.

Pesta pernikahan berlangsung setelah maghrib. Orang-orang akan berkumpul di arena yang sudah disediakan. Semuanya akan sibuk dengan tugas masing-masing. Inilah kesempatanku untuk pergi ke pohon kapuk. Ya, di bawah pohon yang menjulang itulah, sesajen ditata rapi. Dan aku akan memakan sesajen itu. Tak tega melihat Sani dibicarakan tidak-tidak. Kalau sesajen ini tak ada yang makan, kupastikan esok hari akan tersiar kabar kalau Sani mendapat kutukan dan isu semacam ini akan menyakitkan pasangan baru itu. Meski kutahu, mereka bukan orang yang mudah percaya hal-hal mistis seperti ini, tapi dibicarakan tiap hari akan membuat mereka kepikiran. Tentu tak baik bagi kesehatan.

Sambil mengendap-endap, akhirnya aku sampai di bawah pohon kapuk. Biarkan saja anggapan orang-orang yang menganggap pohon ini angker. Aku tak peduli. Yang kupedulikan sekarang adalah menikmati makanan ini secepat mungkin. Sialnya, keadaan yang gelap memaksaku tak bisa pilih-pilih makanan. Apa yang bisa kujangkau dengan tangan, itu saja yang kumakan. Seperti sekarang, aku memegang sepotong ayam yang cukup besar.

Di tengah menyantap paha ayam ini, tiba-tiba aku melihat bayangan putih. Bayangan itu semakin mendekat dan sepertinya aku pernah melihat sosok di depanku ini. Ya, itu ibuku. Ibu tersenyum melihatku makan sesajen. Barangkali dia setuju aku membantu Sani dengan memakan makanan ini. Ibuku buktinya. Dia datang dengan mata sayu, lalu berusaha mengelus kepalaku seperti dulu. Seperti sehari sebelum ibu mati diamuk orang-orang, lantaran ibu tak percaya adanya Jengghu’ sebagai simbol pernikahan.

 

Nurilla. Alumni Ponpes Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Tinggal di Jember.

Advertisements